Terjebak Perangkap Monyet
———————–
Di hutan-hutan Afrika, untuk menangkap monyet agar tak cedera, dan bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika, digunakan sebuah teknik yang unik.
Sang pemburu monyet menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit. Kemudian menanamnya kuat-kuat di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Toples ini diletakkannya di sore hari. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.
Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi.
Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang digenggamnya.
Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri sendiri. Betapa sering kita menggenggam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang menggenggam kacang.
Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.


No comments yet.