Jas Merah
Kisah pemulung yang menggendong mayat Khaerunisa (3 tahun) anaknya, naik kereta Jabotabek karena hendak dikuburkan di Bogor, menyedot perhatian. Beribu e-mail berseliweran mengabarkan tragedi ini. Berjuta mata menatap koran dan monitor dengan terbelalak. Dan berjuta-juta tangis malaikat meledak di angkasa.
Bak sebuah skenario, berbondong-bondong bangsa Indonesia mencibir RSCM, Polisi dan nurani kita semua. Tawaran-tawaran bantuan mengalir deras ke Sang Pemulung malang itu. Tentu, semua bantuan dan itikad baik terjadi sesaat setelah tragedi berlangsung.
Kisah berikutnya, yang terjadi sebelumnya, adalah mengenai Eko Haryanto (15 tahun). Seorang siswa SD yang gagal bunuh diri. Parahnya lagi, Eko bunuh diri karena malu. Dia menunggak SPP 5000 perak sebulan selama 9 bulan. Sederhananya, dia menunggak SPP seharga celana pendek saya. Berliter airmata meruah di wajah bangsa, menyaksikan tragedi kemanusiaan ini.
Seperti sebuah urutan adegan, berbondong-bondong orang berpaling ke Tegal. berjuta kecaman diluncurkan ke pemerintah dan gugatan pada nurani dilayangkan. Dan, seperti halnya di skenario penggendong mayat, semua perhatian dilakukan setelah kejadian.
Semalam, bersama Ike dan Ulil, sejoli pengantin baru, saya bercengkerama. Ada sebuah fenomena menarik. Ike baru saja membeli jam. Baterenya udah lelet. Saya memberi ide, hanya ide. Bagaimana kalau baterenya diganti ‘Ke? Jawabnya, sungguh di luar perkiraan,”Ga deh, ntar aja sekalian mati.”
Sampai kapan kita jadi bangsa yang setelah ada musibah baru sadar: apa arti sebuah tindakan preventif.
Saya menulis ini tanpa tendensi apa-apa. Selain rasa sinis pada diri sendiri. Yang juga tak pernah bisa belajar dari sejarah. Maaf Bung Karno… Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)-mu dicampakkan oleh ego dan kebodohan kami.


No comments yet.