Republik Indonesia Perjuangan
Hari ini, semua ruas Jakarta lancar.
Anak-anak sekolah berjalan di sepanjang trotoar yang hijau. Gerbang sekolahnya yang cantik hanya diberi plakat sederhana: Sekolah ini gratis. Ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Anak-anak itu tampak sumringah, tentu, membayangkan makan siang dan paket buku yang dibagikan gratis siang nanti.
Halte-halte penuh dengan para pekerja yang antri masuk ke angkutan umum gratis milik pemerintah. Bahan bakar gas dari Aceh, menjadi sumber energi yang sangat ramah. Bukan disalurkan ke Singapura seperti permintaan mereka. Pemerintah justru mau menggunakan untuk kita semua. Bukan untuk bangsa asing, kata Menteri.
Saya mengamati semuanya sambil duduk di bangku paling belakang angkutan masal cuma-cuma ini, sembari diiringi membaca koran. Tidak ada berita bagus. Hanya standar-standar saja. Tommy Suharto hukumannya ditambah 50 tahun di tingkat kasasi. 23 koruptor dihukum mati. Hutan di Kalimantan menjadi lokasi pendidikan lingkungan bagi anak sekolah semester ini. 2 Menteri mundur karena ada dugaan penyelewengan dana taktis sebesar 3 juta rupiah. Hmmm, berita yang menjemukan.
Sempurna? Tunggu dulu.
Di perempatan Cempaka Mas, saya melihat ada kertas koran lusuh di jalan. Oh, ini pasti kelambanan para petugas kebersihan serta ketidaktaatan oknum yang membuang sampah sembarangan. Segera saja, saya kirim SMS melaporkan kejadian ini ke hotline pemerintah. Masih di antrian lampu merah itu, tiba-tiba ada petugas datang memungut koran lusuh. Dan ponsel saya bergetar. SMS baru: Terima kasih atas info Anda. Kami telah mengirim petugas untuk memungut sampah koran itu.
Eh, bukankah itu kantor pelayanan pajak? Berarti sudah dekat kantor nih. Kok sepi ya? Oh iya, kan batas terakhir penyerahan seurat pajak serta pembayaran pajak dua minggu lalu. Kantor yang bagus, meski sederhanan orang-orangnya. Tidak ada mobil parkir di sana. Karena aturan serta pelaksanaan pajak di negeri ini memang ketat.
Tak terasa. Bus sudah sampai di Halte Pasar Senen. Saya turun di halte yang kian indah dan sejuk ini. Jalan kaki 400 meter menuju kantor, sambil mampir sebentar di kantin.
Ya. Hari ini, seperti hari-hari kemarin.
Lancar, bersih dan semua bahagia.
Hari-hari yang hanya bisa terwujud di Republik Indonesia Perjuangan.
(terima kasih Sto, atas diskusi yang menarik siang ini. di sebuah titik di Republik Indonesia beneran)


No comments yet.