Kisah Tiga Dunia
Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?
Hampir seluruh pemain akan memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.
Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau.
(inspirasi: Paul W.Cummings)
Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.
Sebenarnya bukan itu intinya. Namun, bagi saya pribadi, selalu ada pilihan ketiga di antara Ya dan Tidak. Antara Benar dan Salah. Antara Hitam dan Putih. Bahkan antara Genap dan Ganjil.
Pegolf itu tidak menggunakan pilihan pertama, dengan resiko memperoleh pukulan pilihan. Tidak juga memilih yang kedua, dengan resiko kehilangan arah pukulan.
Tapi, dia mencari pilihan lain, yang di luar kewajaran. Namun, menghasilkan keputusan yang indah.
Ada tiga dunia sebenarnya dalam sisi-sisi kita. Bahkan lebih. Dua pilihan hanyalah pembatasan pada kekuatan kita sendiri.
Iya ga sih?


No comments yet.