Hari-hari Unjuk Rasa
Jika kita melihat dari sisi lain, kemacetan Jakarta adalah sebuah unjuk rasa rutin yang dilakukan setiap hari kerja.
Mengapa? Sebab dalam iring-iringan (baca: kemacetan) ribuan kendaraan menuju kota, banyak terselip tuntutan. Biasanya tuntutan ini dipasang dalam bentuk stiker di bagian belakang kendaraan. Baik roda dua atau lebih. Misalnya, ‘Menyusur Jalan Demi Biaya Sekolah yang Mahal” di sebuah angkutan umum atau “Awasi Pemerintah”, atau yang lebih halus “Sudah Adilkah Kita?”. Bahkan pernah, saya melihat dengan mata kepala sendiri, bukan milik orang lain, sebuah tulisan besar-besar di bagian belakang sebuah truk: “Awas Banyak Lobang. PU Tidak Punya Dana”. Sebuah kalimat lugas yang juga berisi tuntutan halus perbaikan kondisi jalan raya.
Lihatlah sekali lagi iring-iringan (baca: kemacetan) setiap pagi dan sore di seantero Jakarta dan kota-kota besar lain. Segerombolan orang, dengan beragam tuntutan dan kemacetan yang ditimbulkan. Tak ubahnya sebuah unjuk rasa.
Bedanya dengan unjuk rasa pada umumnya, pada iring-iringan (sekali lagi, baca: kemacetan) , peserta “unjuk rasa” ini tidak saling kenal. Juga tidak ada koordinator lapangan. Jangankan speaker, TOA saja juga tidak ada. Seringkali tuntutan, atau tepatnya harapan, dalam “unjuk rasa” ini bersifat bersonal. Misalnya, “Dicari: Mertua Kaya dan Royal Sama Mantu”, atau “
Kadang juga ada kampanye pribadi dalam “unjuk rasa” ini. Simak saja stiker di sebuah mobil yang berbunyi “Jangan Ditabrak, Masih Kredit”, atau di sebuah motor yang berbunyi “Dilarang Naik Selain Cewek Cakep”.
Namun, bukankah unjuk rasa -tanpa tanda petik- seringkali juga sama dengan “unjuk rasa” -dalam tanda petik- ini? Banyak peserta yang tidak saling kenal, tuntutannya bersifat personal atau tidak mewakili kepentingan orang banyak.
Unjuk rasa di jalan dengan menyusup dalam kerimbunan kendaraan di jalan raya, pernah berakibat fatal. Almarhum Nuku Suleiman, Ketua Yayasan Pijar, terkena pasal subversif karena stiker. Pada 1993, di tengah maraknya demo anti-Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) yang dianggap sebagai judi oleh umat Islam, Nuku mengedarkan stiker bertulisan SDSB yang dipanjangkan jadi “Soeharto Dalang Semua Bencana”. Ia ditangkap di Gedung DPR-RI dan diganjar hukuman lima tahun penjara setelah pengadilan memutuskan bahwa dia menghina kepala negara. Ada juga seorang sopir truk yang dikabarkan ditahan karena karena menggunakan istilah SDSB yang sama dengan almarhum Nuku Seuleiman di bagian belakang truknya.
Nah, Anda ingin menuntut kenaikan gaji kepada bos? Gampang, pasang saja tulisan “Naikkan Gaji Saya!” di kendaraan Anda. Dan gunakan sejak dari rumah hingga ke kantor. Dijamin, bos akan keder melihat Anda diiringi ribuan orang menuntut kenaikan gaji.
Cobalah! Kalau bos tidak mahfum maksud Anda, itu resiko. Sebab beliau mungkin melihat kemacetan dari sisi yang berbeda.
Saya sendiri hanya memasang satu stiker di kendaraan. Stiker kecil mungil tapi bisa menyala dalam gelap. Tulisannya “AirPutih”. Bukan tuntutan, tentu saja. Hanya identifikasi dan narsisme member Komunitas AirPutih. Ingin juga sih, pasang stiker berisi tuntutan atau kampanye, cuman belum saya dapatkan hingga sekarang. Saya ingin yang bertuliskan “Maju Tak Gentar, Membela yang Benar“. Tentu, stiker yang berwarna hijau dan ada bintangnya sembilan buah…


npouqdvvear
einla