Banda Aceh: Everyday is Weekend
Hari pertama, selayaknya turis domestik, saya diajak teman-teman dari Fauna and Flora International (FFI) Aceh Programme, dan dari AirPutih, berjalan-jalan keliling Banda Aceh. Beberapa rekan menyebutnya sebagai Tsunami Tour. Tidak banyak perubahan yang saya rasakan dibanding beberapa bulan lalu. Perubahan paling mencolok adalah, tahun lalu, tenda-tenda yang ada kian koyak. Banyak tambalan di sana-sini. Tentu saja, sudah setahun lebih tenda itu dipaksa berdiri tegak. Sementara angin, panas dan hujan silih berganti datang. Dan rumah tak kunjung usai dibangun.
Jika Anda pernah ikut Pramuka, tentu ingat Persami. Sekedar mengingatkan, Persami biasa dilakukan rutin para Pramuka Siaga beberapa bulan sekali, pada weekend. Biasanya diawali Sabtu sore jam 15.00 berkumpul di sekolah kemudian bersama-sama berangkat ke lapangan terdekat untuk memasang tenda. Jangan lupa, selalu ada api unggun dan jurit malam. Jalan-jalan saat malam dengan membawa bendera regu, memasuki kawasan-kawasan yang dianggap angker untuk menguji keberanian dan ketabahan Pramuka Siaga sejati.
Kembali ke Persami a la Aceh. Di Aceh, Persami berlangsung setiap hari. Atau jangan-jangan, di Aceh ini setiap hari adalah weekend? Sebab, selain berkemah setiap hari, setiap malam banyak orang kongkow di kedai-kedai kopi. Pemandangan yang lazim ditemui pada saat weekend di kota-kota besar. Bedanya, tenda-tenda di sini tidak berbedera tunas kelapa, lambang Pramuka. Tetapi lebih banyak yang bertuliskan nama-nama lembaga asing dalam huruf-huruf kapital yang berukuran besar. Dan kedai kopinya bukan Starbucks, tetapi Starblack. Beberapa kedai kopi juga bisa digunakan mengakses internet berkat hotspot Yayasan AirPutih.
Hmmm. Berat sekali kerja di FFI™. Sekian dulu laporan saya, sebab saya harus bersiap-siap mengendarai motor trail bersama Wibi ke Calang. Sebab sekitar 6 jam perjalanan menyusuri Pantai Barat Sumatra ini tentu membutuhkan persiapan agak matang.
Oh ya, orang Aceh menyebut motor dengan sebutan kereta. Sempat terjadi kesalahpahaman. Saya pernah bertanya dengan takjub ke Iep, salah satu staf FFI Aceh, “Sejak kapan di Aceh ada kereta?”. Iep hanya tertawa.
Tunggu laporannya!


Sedih banget baca berita Acehnya. Udah setahun lebih, masih terus-terusan di tenda. Itu bukan persami (perkemahan sabtu minggu), tapi persami (perkemahan setahun lebih pasca tsunami)
Pengen nangis huuuu:( Makanya aku ngungsi ke mdn aja, ga tahan di tenda trus. hehe. Udah nyobain kupi aceh? Pasti kepengen balik deh…