Mimpi Saya, Mimpi Anda dan Mimpi Kita

My Rinda, istri saya satu-satunya (sekali lagi maaf, saya sudah menikah!), mengayunkan estafet Lima Mimpi. Estafet ini mengharuskan saya menulis Lima Mimpi. Itu saja. Mimpi-mimpi saya, barangkali terlalu pasaran, jamak dan lumrah. Bisa jadi, mimpi-mimpi saya adalah mimpi-mimpi Anda. Jadi, bisa jadi juga, mimpi-mimpi saya dalah mimpi kita semua.
Semua mimpi saya, sudah ada di benak sejak lama. Ayunan estafet Lima Mimpi dari My Rinda, istri saya satu-satunya (maaf, sekali lagi maaf, saya sudah menikah!), membangunkan saya untuk mewujudkan mimpi, setidaknya dalam bentuk tulisan dulu. Semua mimpi dalam Lima Mimpi ini memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Realisasi? Belakangan. Mimpi, ide, konsep, wacana dan niat nomer satu. Kerja keras nomer berikutnya dan penentunya adalah Sang Maha Pemberi Keberuntungan.
Berikut Lima Mimpi saya, yang mungkin juga, adalah mimpi kita semua…
1. Pensiun Dini
Saya akan pensiun dari status orang bekerja pada usia -maksimal- 35 tahun. Saya akan pulang kampung ke Mbatu. Semua kekayaan saya hasil memeras keringat akan saya kumpulkan jadi satu dan pulang kampung. Kekayaan yang saya maksud adalah setumpuk buku dan beragam hal-hal ga jelas. Tentu saja, koleksi junk paper harus ikut dibawa pulang kampung.
2. Memiliki Toko Buku
Sepulangnya di kampung, saya akan mendirikan toko buku. Pernah lihat film You’ve Got Mail? Dalam film ini ada 2 toko buku yang sering disorot. Nah, toko buku milik Meg Ryan-lah yang menjadi impian saya. Sebuah toko buku yang hangat dan bersahabat. Sutradara film ini, Noah Ephfron, sangat piawai menggambarkan sebuah toko buku yang saya maksudkan. Di toko buku ini, saya akan menjadi penjaga, buyer sampai dengan ownernya. Gantian dengan My Rinda, istri saya satu-satunya (maaf, sekali lagi maaf, saya sudah menikah!). Sebab, saya kan harus mengantar anak-naka ke sekolah.
3. Menjadi Kolumnis
Menjaga toko buku saja tentu kadang membosankan. Saya butuh sesuatu aktifitas untuk selingan. Menulis. Ya, saya akan menulis kolom yang berisi banyak hal. Untuk urusan ini saya terinspirasi oleh Goenawan Mohammad dan Farid Gaban. Yang satau ada di awang-awang, yang satu ada di sebelah saya. Hahahaha… Coba terka siapa yang ada di sebelah saya. Tentu orang yang paling kere di antara ke dua nama tersebut, bukan?
4. Menjadi Guru Bahasa Indonesia
Ya. Saya adalah Pesolek Bahasa. Saya suka mengutak-atik kata menjadi apa saja: senjata, cerita, dan sebagainya. Name it! Dan lucu banget rasanya kalo saya bisa menjadi guru Bahasa Indoensia. Saya akan mengajar dengan cara saya sendiri. Lepas dari kurukulum, silabus dan beragam teori. Yang penting asik. Hmmm, mungkin sembari jaga toko buku, menulis di rumah di waktu malam, sore hari bisa saya manfaatkan untuk menjadi guru sekolah pamong atau sekolah unofficial ‘kali ya?
5. Memiliki Perkebunan Organik
Capek jaga toko buku, menulis dan mengajar, saya harus pulang. Saya akan pulang ke rumah saya. Di sebuah kaki bukit yang menghadap ke bawah. Lampu-lampu di kejauhan menjadi dekorasi jendela rumah saya. Rumah yang dialiri air dari kolam ikan di belakang menuju kolam ikan di depan ini, harus memiliki akuarium air tawar. Dan terletak di tengah sebuah perkebunan organik. Tempat kami sekeluarga menanam beragam flora yang sehat. Tanpa pestisida dan pupuk kimiawi lainnya. Semua harus ada, setidaknya kalo mau bikin sambel, semuanya tersedia di halaman belakang.
Masih banyak mimpi-mimpi saya. Namun, berkat kuasa Sang Maha Pemberi Keberuntungan, hampir semua sudah saya wujudkan. Mulai melihat-lihat beragam sisi Indonesia, menulis untuk media dan buku, mendirikan sekolah, hingga kawin muda. Semua sudah.
Ada juga sih 2 mimpi selain di Lima Mimpi pada tuisan ini yang belum terwujud. Sayangnya hanya dijatah lima.
Jadi, biarkan dua itu menjadi rahasia saya.
Oh ya, saya lemparkan tongkat estafet ini ke Anda semua!


Anda masih beruntung bisa bermimpi dan mempunyai mimpi. Saya lebih banyak tidak bisa bermimpi dan tidak mempunyai mimpi. Mimpi saya adalah beribu perencanaan dari a sampai z, dari 1 sampai tak higga, dari senin sampai minggu, dari tempat x ke tempat y. Mungkin…ehmm bagus jg bila saya sekarang merencanakan untuk bermimpi dan mempunyai mimpi. Tetep dalam konsep logik buat saya.
mimpi saya sederhana, membesarkan anak2 sebagaimana orang tua saya membesarkan saya dulu (itu juga kalau Sang Pemberi Kehidupan berkenan memberi kepercayaan kepada saya..), punya toko kerajinan tradisional (ngga jual barang impor!!), punya perpustakaan yang bisa diakses umum dan mengajar. Prinsip “kekinian” yang saya pegang baru membawa saya pada mimpi yang saya tulis terakhir.. memberi seberapapun ilmu yang saya punya kepada orang lain untuk diteruskan kepada yang lainnya
mimpiku - entah yg ke berapa - adalah sering main ke toko bukumu. ya main! bkn beli!… nongkrong membacai buku-buku ditemani kopi yg kuseduh dan kujerang sendiri dari dapur di buritan. diskusi? ah tak guna diskusi dg pesolek bahasa. lebih manfaat menghemat lidah dan ludah untuk mendongeng dan berbagi cerita dgn anak2. kau pasti akan bikin pojok anak-anak di sudut tokomu. ya kan! dan itu harus diramaikan dengan mengumbar imaji kekanakan. bukankah kau bilang: imajinasi adalah lawan sepadan kenyataan.
Perlu waktu lama ketika sy mulai merumuskan keinginan ttg mimpi dan mempunyai mimpi. Bukan semu tp lari dr lorong hati yg terdalam. Ternyata mimpi sy cukup simpel…pengen tinggal di rmh yg adem, merasakan kenikmatan membukakan pintu rumah ketika suami dtng dari perjuangannya mencari sebelah rizki utk keluarga dan menjalani setiap detiknya pertumbuhan “buah hati” sy nantinya. Pada saatnya nanti pasti sy akan tanggalkan semua atribut2 yg menempel ini…pasti..
aku senang untuk bermimpi.. Bukan cuma bermimpi, tapi juga mengejar mimpi itu.. Harus selalu ada harapan dalam hidup! Tanpa harapan, kita tak kan pernah bersua dengan impian. Saat ada harapan. disitulah ada tempat untuk keajaiban..
Saat ada pengharapan.. sayap mu tak kan pernah berhenti untuk belajar terbang, bahkan di saat badai hampir mematahkan sayapmu.. kau kan tetap terbang sampai kau tiba di pelabuhan mimpimu
mimpi saya…masih sedang di mimpikan dan tampaknya masihs edikit abstrak hingga belu taun usia 35 mau apa nanti heheh.
Ya, paling nggak salah satu keinginan udeh terwujud saat ini yaitu….ketemu Mas Wandi
mungkin anda terlalu beruntung karena sudah bisa mewujudkan berbagai mimpi dalam 1 kehidupan ini.
masih banyak orang yang memiliki mimpi yang setidaknya hampir sama dengan anda sangat sulit mencapai mimpi2nya tersebut.
saya jadi merasa ikut terinspirasi dengan kegigihan anda untuk mengejar mimpi2 itu.
selamat…..!
sampai saat ini saya ga tahu apa mimpi saya, aneh yaaaa, tapi itulah kenyataanya: saya selalu telat untuk sekedar bermimpi…ada yang bisa bantu memangun mimpi saya… ta tunggu di sani_shinchan@yahoo.com yaaaah
mimpi itu terkadang bunga tidur tapi hati2 bunga tidur itu terkadang bisa menjadi sesuatu yang nyata
mimpi adalah sesuatu yang selalu dapat membuat kita hidup, tanpa mimpi bagaikan kita berjalan ditengah kegelapan suram. Namun seringkali orang-orang disana tidak dapat menemukan apa yang menjadi impian sebenarnya. terkadang pula kita menemukan impian kita, tapi kita tidak tahu bagaimana harus mewujudkannya atau kita kurang bijak dalam menyikapi apa yang kita impikan sebenarnya. (maaf bhs Indonesia saya kurang bagus)
subahanallah, untuk menjadi pengajar dengan kasih sayang sangat diperlukan kesabaran dan ketulusan………..semoga kita tetap istikomah
wan, photo anak istri ga keliatan, pengin liat wandi junior he…..he….