What Kind of Man Would I Be?
Kami berdua, aku dan Bunga, sudah pasti saling mencintai saat Mawar menyeruak dalam hatiku.
Sehari setelah mengakhiri hubungan dengan Bunga, aku dan Mawar meresmikan rajutan kasih. Kami berdua tenggelam dalam lenguh dan desah kebahagiaan. Hari demi hari kami lalui tanpa sekalipun terasa garing, mengingat dia adalah sosok khas kelas menengah pekerja ibukota. Bermalas-malasan berdua di hari Minggu sebelum nge-mall. Nonton musik live bersama anak-anak muda di hari Senin. Selasa, Rabu dan Kamis seakan menjadi ritual wajib bagi kami untuk berada dari satu mal ke mal, satu cafe ke cafe lainnya, satu warung ke warung. Wisata kuliner yang menyenangkan. Teman-teman kami juga sudah tahu jika setiap Jumat malam sampai Minggu pagi kami berdua pasti sedang backpacker ke kota-kota kecil. Atau barangkali tengah ngumpet di kamar kecil sebuah penginapan di ujung kota. Larut dalam keringat.
Lalu, Melati muncul. Perjalanan berdua bersamanya adalah pengumuman berakhirnya hubungan dengan Mawar. Tak kalah dengan sebelumnya. Melati membawa banyak ritual baru yang melenakan. Sebagai seorang jurnalis, dia membawaku ke banyak tempat yang tidak diduga-duga. Menyusuri wilayah kota tua di hari Minggu. Menyaksikan beragam aksi panggung di pusat-pusat kebudayaan setiap Senin. Membolos kerja untuk menemaninya berburu buku di pasar-pasar loak. Mengikuti rangkaian acara di musem-museum. Dan mengisi akhir minggu di pusat kebugaran atau kolam renang. Tak jarang, kami mengakhiri malam bersama-sama, diiringi teriakan-teriakan kepuasan yang menimbulkan ketagihan di malam buta.
Bulan yang kutemui di salah satu acara kantor, menjadi tonggak berakhirnya hubungan dengan Mawar. Aku menikmati setiap detik duduk menunggu di depan rumah sakit tempat Bulan berpraktek, sebelum kami berdua menyusuri trotoar sampai pegal. Jalanan yang teduh, mendorong Bulan selalu memeluk lembut diriku. Cerita-cerita yang mengalun di antara kami selalu cerita indah. Tak pernah aku merasa se-lelaki seperti ini sebelumnya dengan perlakuan lembutnya. Sudah tak terhitung lagi teman-teman memergoki kami berdua tengah duduk di bangku taman kota, atau sedang berpelukan di pantai yang mudah dijangkau dari kota. Sedikitnya dua kali seminggu, namun seringkali lebih, aku menyediakan diri menjadi pasien pribadi dengan perawatan khususnya. Mulai menggunakan metode konvensional di ranjang, berpindah ke kamar mandi, dapur dan bahkan kadang belum sempat memasuki ruangan selain ruang tamu. Aku yakin dia sudah menghafal buku-buku tebal kedokteran, hingga tak pernah kehilangan cara menjadikan aku pasien paling bahagia di dunia.
Bulan dan aku sepakat memutuskan hubungan tepat sehari sebelum aku dan Harum mengawali hubungan cinta. Justru karena jarang bertemu karena kesibukannya sebagai entertainer, kebersamaan kami selalu menjadi saat yang dinantikan. Selalu hangat. Kemudian semakin bergelora dan membara. Tidak ada ruang publik yang menjadi tempat kami berduaan. Pertemuan kami berdua hanya terjadi di apartemen mungilnya atau rumah kecilku di ujung kota. Ketenaran Harum menjadi alasan kuat bagi lahirnya masa-masa indah berdua kami. Yang sunyi, privat dan menyenangkan. Kebiasaan Harum sebagai pesohor yang menyita banyak perhatian publik, musnah di depanku. Harum dalam mataku tampil sebagai wanita biasa yang butuh perhatian dan perlakuan khusus. Dan itulah yang kuberikan padanya di setiap kesempatan bersama. Senyum dalam tidur pulasnya, menunjukkan betapa bahagianya dia dalam peluh. Apalagi aku.
Itulah sekelumit kisah kasihku yang kuceritakan kepadanya di hari pertama aku meyakini telah jatuh cinta padanya. Atau, barangkali lebih tepat disebut sebagai hari pertama aku putus dengan Harum.
Aku sampaikan semua ini kepadanya. Tapi dia malah marah: menuduhku tidak setia, lelaki hidung belang, penebar pesona dan -ini paling sadis- dia menganggapku tak layak menjadi pendamping hidupnya.
Lihatlah! Mana pernah aku berhubungan lebih dari satu wanita dalam satu waktu? Tak sekalipun aku pergi ke lokalisasi. Apa sebenarnya yang dia inginkan? Memiliki bayi tanpa masa lalu sebagai pasangan hidup?
Tell me, what kind of man would I be?
Living a life without any meaning
And I know you could surely survive without me
But if I have to live without you
Tell me, what kind of man would I be?
(What kind of man would I be, Chicago)
PS. Sebelum ada tuduhan tidak berdasar, perlu kusampaikan bahwa cerita ini hanyalah cerita khayalan. Segala persamaan nama, lokasi dan profesi hanyalah kebetulan belaka.


jadi korban lagi kah? *polos*
#1 : kan udah dibilang, ini hanya rekaan, khayalan semata.
achh itu boong lagi
jadi gay aja wan! hahaahahaha….
Lho, justru itu,
sejak kapan Wandi tobat jadi homo?
Mawar, Melati, Harum…
kasihan cuman jadi topeng kehomoannya…
SYI.