Sinergi
mengenang setahun Bapak.
Makna sinergi, justru saya dapatkan dari prosesi pemakaman.
Sinergi yang saya maksudkan, bukanlah nama grup band metal Sinergy dari Finlandia. Tapi sinergi yang berarti saling mengisi kekosongan antar beberapa orang atau institusi yang berbeda dalam satu aktifitas. Sebuah artikel di Sinar Harapan memberi contoh sederhana:
Pak Andi dapat menyelesaikan satu stel jas dalam satu hari, sedangkan Pak Joko bisa menyelesaikan dua stel jas dalam satu hari. Jika Pak Andi dan Pak Joko bersinergi, hasilnya dalam satu hari, bukan menghasilkan tiga stel jas/hari (satu stel dari Pak Andi dan dua stel dari Pak Joko), melainkan bisa mencapai empat stel jas atau lebih.
Hal ini bisa terjadi karena perpaduan pengalaman dan pengetahuan Pak Andi dan Pak Joko bisa menghasilkan sebuah sistem menjahit stelan jas yang menawarkan produktifitas yang lebih tinggi dari pada jika kedua penjahit ini bekerja sendiri-sendiri dan mengandalkan keahlian serta pengalaman kerja masing-masing.
Cerita kali ini adalah adanya paradoks dalam sebuah prosesi pemakaman. Prosesi yang semestinya sedih itu, menimpan sebuah cerita dahsyat di baliknya.
Setahun lalu, Bapak meninggal. Sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga, bingung juga saya. Apa yang harus saya lakukan? Namun, begitu berita ini diumumkan dari mulut ke mulut, dari masjid ke masjid, dan dari SMS ke SMS, ratusan orang tiba-tiba datang.
Tanpa dikomando, semua posisi tugas sudah terisi. Ada yang langsung ke kuburan untuk menggali. Ada yang langsung memasakbuat para pelayat. Ada yang langsung memanggil petugas keagamaan. Ada yang langsung road show ke masjid-masjid mengumumkan berita duka ini.
Sekali lagi, semua tanpa dikomando.
Masing-masing orang sudah tahu benar apa kemampuannya yang mencolok dibanding orang lain. Yang punya cangkul dan berbodi kekar, langsung menjadi petugas pemakaman. Yang punya tong besar langsung mengeluarkan dari rumahnya, untuk dipakai memandikan jenazah. Yang terbiasa masak langsung ke dapur mempersiapkan makanan buat para pelayat.
Praktis, kami sekeluarga jadi punya waktu untuk berdoa dan mengikuti acara pemakaman dengan tenang.
Di kehidupan nyata, makin susah saja menemukan sinergi yang indah. Kehidupan, yang mestinya adalah wilayah berbagai-pakai, menjadi wilayah kompetisi yang saling menihilkan. Saling menghilangkan perang pihak lain. Saling sikut. Tendang. Dan saling mengalahkan tanpa ampun.
Lucu ya? Kita ternyata harus belajar kehidupan dari prosesi kematian.
Oh ya, sinergi yang menyenangkan juga terlihat dalam situs Nebeng.com.


Mengenang 8 jam wafatnya Bpk. H. Muhammad Soeharto
*menuju cendana untuk tahlilan*