Hipermarket
Ketulusan seperti Elang Jawa. Semakin lama semakinberkurang jumlahnya di dunia ini.
Kemarin, saya pulang malam. Seperti biasanya. Yang tidak biasa, ada sedikit duit yang datangnya tidak diduga-duga. Jadi asli ini rejeki. Kalau sudah diduga sebelumnya, bukan rejeki namanya. Itu namanya hukum.
Daripada nganggur , duit yang lumayan itu saya belikan mainan untuk nanak-anak. Kakak dapat boneka Bar, maaf ga boleh sebut merek, cewek berambut pirang, berbaju pesta warna ungu dilengkapi dengan sepatu warna senada dan asesoris. Adek dapat robot yang bisa jadi mobil warna biru. keduanya sudah diimpikan sejak lama. Nunggu Ayah punya duit katanya…
Imbal baliknya, malam itu sampai tadi pagi, Ayah (baca: saya) memperoleh pelukan erat dan ciuman yang banyak dari kening sampai ke dagu. Sebenarnya hampir setiap malam dapat. Cuman semalam sampai tadi pagi, rasanya aneh.
Sebab, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya memberikan hadiah sambil berharap dapat imbalan. Bukan karena cinta dan sayang.
Padahal, semestinya, cinta itu bersandar pada ketulusan. Sebab, cinta bukanlah transasksi.
Dan ingatan saya melanglang ke O. Henry (nama samaran William Sydney Porter) dan cerita pendeknya yang legendari, The Gift of the Magi. Dikisahkan, ada sejoli yang saling mencintai. Si cewek, wanita lugu berambut panjang nan indah. Sedangkan si cowok, pria sederhana yang selalu bangga dengan jamnya. Pada suatu Natal, keduanya yang sebenarnya hidup miskin, saling menyempatkan diri bertukar hadiah.
Namanya juga orang miskin, berbagai cara ditempuh untuk memperoleh hadiah istimewa bagi sang terkasih. Si cewek memotong rambutnya yang indah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membeli rantai emas buat jam si cowok. Sedangkan cowoknya, menjual jam kebanggaannya untuk dibelikan hiasan rambut bagus bagi si cewek.
Saya jadi semakin merasa hina. Dengan anak-anak tercinta saja tidak bisa tulus.
Bahkan dengan Sang Maha Besar, seringkali kita tidak tulus. Hubungan dengan Tuhan Seru Sekalian Alam adalah hubungan transaksi. Berbuat baik dengan alasan ingin masuk surga. Dengan iming-iming pahala, berbuat baik layak dilakukan. Sebaliknya, takut berbuat jelek karena takut ancaman api neraka. Tuhan dan umatNya laksana dua orang dalam pasar. Saling bertransaksi.
Ketulusan sulit ditemukan. Terutama saat dunia sudah menjadi hipermarket.


dalem pak…..
jadi kapan kita transaksi membeli ketulusan?