Bersahabat dengan Kacamata
Bagi saya, kacamata adalah sebuah organ tubuh. Sudah seperti kelopak mata. Bayangkan, kacamata adalah barang terakhir yang saya lepas sebelum tidur dan barang pertama yang saya pakai begitu bangun. Dan sudah tak terhitung berapa kali saya lupa melepas kacamata waktu tidur. Waktu mandi, kacamata juga barang terakhir yang saya tanggalkan dan barang pertama yang saya pakai setelah handuk.
Tak dinyana tak diduga, sudah 25 tahun saya menggunakan kacamata.
Pertama menggunakan kacamata, waktu kelas 1 SD. Tahun 1983. Pertama kali saya bisa membaca, saya langsung pakai kacamata. Diawali sebuah permainan dengan ibu. Ibu -waktu di depan teras rumah- sering bertanya, coba cari mobil dengan plat nomer N sekian-sekian. Lalu kami -anak-anaknya- berebutan mencari. Melongok ke kanan dan ke kiri, saya tidak menemukannya. Ibu heran dan bertanya mengapa saya belum bisa menemukannya. Saya jawab kalau saya tidak tidak bisa melihat. Sejam kemudian kami sudah di sebuah optik langganan keluarga untuk mengukur kacamata terbaik buat saya.
Secara genetis, dari ibu, keluarga kami memang dikaruniai mata dengan sedikit gangguan. Alhasil, 5 orang anak ibu-bapak semuanya berkacamata. Meskipun kini, tinggal dua yang setia menggunakannya. Ada yang LASIK, dan ada yang sembuh dengan sendirinya. Dari sisa 3 pengguna ini, sayalah yang terlama menggunakannya.
Semenjak remaja, berbagai cara saya tempuh supaya bisa lepas dari cengkeraman kacamata. Pernah saya mencoba cara paranormal. Yakni dengan menggunakan telur. Bawa sekilo telur, pergilah saya ke paranormal itu. Setelah menjalani ritual aneh satu per satu telur digosokkan ke mata saya. Setelah digosok, telur dipecah. Ajaib, isinya jadi kosong. Hasilnya? Setelah diobati, minus turun 0,5 setai kali kunjungan. Dan kunjungan dijadwalkan dua minggu sekali. Bayangkan jika sata itu minus saya 7,5. Berapa minggu saya harus berobat dan berapa kali ganti kacamata?
Pakai lensa kontak pernah saya coba waktu kuliah di Surabaya. Ternyata malah tersiksa dan berpotensi penyakit. Mengingat gaya hidup saya yang jorok dan berkubang kotoran. Waktu itu saya sudah minus 7.
Rekor saya adalah minus 9,5. Pertama pakai, langsung minus 1,5. Sekarang minus 7 dan sudah tidak berubah-ubah sejak 3 tahun belakangan. Hingga kini, saya sudah berganti lebih dari 40 kacamata. Berbagai model saya coba, dan tetep saja ganteng.
Kini, saya sudah menyadari dan menerima kecacatan saya ini. Saya tidak bisa memperhitungkan jarak dengan benar.
Saya sudah bersahabat dengan kacamata. Saya menyayanginya sebagaimana organ tubuh lainnya. Meskipun, yah, ada organ tubuh lain yang cenderung saya manjakan karena bisa memberi nikmat pada sekujur tubuh, baik lahir dan batin. Setidaknya, kacamata bagi saya adalah organ tubuh yang knock down. Bisa dilepas dan dipasang sesuai dengan kebutuhan. Di dalam tas, untuk kebutuhan mata, selalu tersedia lensa kontak, obat tetes, dan kacamata cadangan serta clip-on kacamata hitam.
Kacamata, sahabat saya, telah menjadi organ tubuh tak terpisahkan.


Saya ketularan mas Wandi nih, sekarang berkacamata, apa karena Penyakit genetis mas Wandi menular ke saya?
kacamata yang dimaksud wandi adalah kacamata kuda. yang penting jalan teruss…
saya ingat, waktu pertama kali ketemu kamu, lensa kacamatamu lepas satu, jadi kamu cuma memakai sebelah saja…
ohh itu berarti seperti saya kalau kemana-mana bawa kondom, “sudah menjadi organ”
Assallamualaykum,
saya juga berkacamata nih. Kepengen bisa sembuhhh, tp karena treatment TBC Kelenjar Bening saya tempo hari, yg ada minus mata saya bertambahh…hehe.
koyok moco dongeng
*ngantuk*
kalo gak pake kaca mata hitam, mataku bisa “mercing-mercing” kena teriknya matahari…
# Uconk
Lha untumu kok ga nggawe kocomoto ireng pisan? Biar ga mrecing terus gusine…
lak untuku tak helm-i, biar kalo jatuh nyosor gak gegar gusi
wah,,,kita senasib mas,,kacamata juga menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup barang pertama yang dipakai dan dicari saat bangun tidur,minuss mata saya sekarang udah naik lagi 3,5 kanan,
dan 3,75 kiri,blm lagi ditambah slidernya,,,cape deh…