Dua Sisi Mata Uang
Lihat, hanya dengan melihat dari sisi yang berbeda, maka kesan yang muncul akan sangat berbeda. Laiknya dua sisi mata uang. Hmmm… Saatnya kita memilih, mau dari sisi mana kita memotret kehidupan yang kian hari kian rumit lengkap ini.
Coba perhatikan beda sisi cerita-cerita di bawah ini, lalu tentukan, mau sisi mana yang kita pakai?
Cerita Pertama
Ki Sanak dan Si Fulan bertemu, setelah hampir 20 tahun berpisah. Kedua sahabat ini, yang sudah mulai beranjak senja, saling bercerita. Berusaha keras menebus sekian lama waktu yang hilang dari siklus persahabatan mereka. Salah satu topiknya, tentu saja, adalah soal anak.
Ki Sanak : Bagaimana kabar anak lelakimu?
Si FulanĀ : Itulah masalah terbesarku kini, Ki Sanak. Dia sekarang sudah menikah. Dan masalahnya anakku sekarang keliatan seperti budak istrinya. Bayangkan, dia harus bangun pagi untuk memasak, memandikan anak-anak dan mengantar ke sekolah. Malah istrinya selalu minta diantar makanan ke ranjangnya. Omong-omong, bagaimana dengan anak perempuanmu?
Ki Sanak : Anak perempuanku juga sudah menikah. Dan kini aku lihat dia hidup bagi Ratu. Semua hal dikerjakan oleh suaminya. Mulai memasak, memandikan anak-anak sampai mengantar dan menjemput ke sekolah. Anak perempuanku tinggal tidur-tiduran, shopping, bahkan makanan pun diantar suaminya ke ranjang.
Cerita Dua
Ny. Fulan adalah anggota arisan di sebuah desa tertinggal, di kecamatan kecil di kabupaten miskin di sebuah propinsi yang jauh dari hingar bingar dunia. Ny. Fulan sedang bercerita kepada tetangganya.
“Si Badu sekarang sudah jadi orang. Dia kerja di sebuah kantor besar di Ibukota. Gajinya sering disisihkan untuk dikirim ke rumah. Atasannya kelihatannya senang ama Badu. Dia kan ga neko-neko. Malah seringkali dia dipercaya mengatur makan siang untuk tamu-tamu penting boss-nya. Bahkan sampai disuruh tinggal di kantornya yang mewah itu.”
Ny. Sanak adalah sebuah direktur utama sebuah perusahaan multi nasional yang berkantor megah di kawasan elit di ibukota negara. Di saat bersamaan dengan Ny. Fulan yang tengah berbincang dengan tetangganya, Ny. Sanak tengah menjamu tamu VVIP di ruang kerjanya.
Begitu Badu selesai menyuguhkan makan siang di ruang kerja Ny. Sanak, tamu bertanya, “Siapa itu tadi? Kok saya yang sering ke sini belum pernah melihatnya?”
Ny. Sanak menjawab, “Hanya office boy biasa.”


biasanya orang yang udah bisa melihat ini tapi belum berani memilih, itu orang yang oportunis.
hampir mirip dengan kisah benar dan salah yang sebenarnya adalah relatif. tergantung dari sudut pandang.