NGO: Nih Gagalnya Organisasi
Saya tergolong newbie di dunia LSM atawa NGO. Belum lebih dari 3 tahun saya terlibat aktif. Memang, di Malang dulu saya sempat masuk dalam dunia NGO. Namanya Khatulistiwa. Saya terlibat di Khatulistiwa diajak oleh Mas Bambang, Uconk, Mbak Dyah dan Bachtiar. Merekalah yang mengajari saya meta plan, memfasilitasi, cara kerja dan semangat volunter serta manajemen NGO. Thx guys! I do miss u all. Termasuk juga para volunter yang tergabung dalam Mitra Alam Khatulistiwa (Tralawa), PLAT N (Peduli Lingkungan -T-nya apa ya?- Ngalam), Yayasan Semesta Biru, Pakarti (Pendidikan Keanekaragaman Hayati) dan MAS FM.
Kini, Khatulistiwa sudah lelap dalam tidur panjangnya. Tapi semangatnya masih kami abadikan dalam sebuah situs bernama www.khatulistiwa.info.
Di era masa kini, aktifitas saya di NGO diawali dengan keterlibatan dalam pengembangan 1001buku (ga total) dan AirPutih (total). Tahun pertama saya masuk ke dunia NGO, rasanya sangat memuaskan. Kerja dengan hati. Bebas menentukan strategi dan teknis. Bertemu dengan pribadi-pribadi yang mencengangkan dan inspiratif. Intinya, sangat menyenangkan. Apalagi sebelumnya, saya berada di dunia kapitalis. Serasa bebas merdeka. Sangat indah.
Di tahun kedua, saya mulai merasa eneg. Mulai terlihat banyak sesepuh, panutan dan tokoh NGO yang bermuka dua. Bahkan lebih. Di depan anak-anak muda pekerja NGO seperti saya, tampil bak malaikat. Menunjukkan jasa di sana dan di sini. Mengklaim keberhasilan Si Badu sebagai hasil kerjanya, lalu menuduh Si Badu ditunggangi Mr. X (tokoh NGO saingan) saat kegagalan muncul.
Di tahun ketiga, perasaan bete ama dunia NGO mulai akut. Salah satu yang membuat saya makin bete dengan NGO adalah saat-saat pertemuan antar NGO. Misalnya saat UNFCCC atau konferensi dan pertemuan antar NGO lainnya. Isinya seperti reuni. Banyak pasangan sahabat yang bertemu lagi setelah sekian lama terpisah. Si Fulan dan Ki Sanak yang sekarang sama-sama menjadi board di dua NGO yang berbeda, ternyata berpuluh tahun lalu adalah kolega di NGO yang sama. Sangat terlihat, betapa mereka -paraNGOwan dan NGOwati- sekian lama berkiprah di dunia yang sama: NGO. Dan kenyataan ini membuktikan, bahwa dunia NGO tidak memiliki regenerasi. Apapun alasannya, anak-anak muda masih jadi urutan kesekian dari para pengambil keputusan di NGO.
Ugh, saya pengen kerja berbasis komunitas saja daripada berdasarkan gerakan NGO.
Saya semakin sering menemui sesepuh-sesepuh NGO yang bermuka dua. Tak lebih dari makelar project. bekerja berdasarkan project. Dan, diam-diam namun kentara, menebar pengaruh ke anak-anak muda. Berebut nama di generasi yang lebih belia. Tak segan dengan berdusta dan berlumur janji palesu. Berlagak pemberi inspirasi namun memanipulasi.
Lalu, ada pertanyaan, mengapa saya bertahan? Sebab, sejak saya masuk dunia NGO, saya selalu berkesempatan terlibat dalam aktifitas volunter. Wajah, senyum dan keringat para volunter inilah yang membuat saya bertahan. Ketulusan hati mereka tidak terbayar dengan apapun.
Kini, saya rindu jadi wartawan lagi…
Dipersembahkan untuk teman-teman volunter JGM dan AirPutih: keringatmu kawan, insiprasi yang tak pernah pupus.


hahaha… makanya jangan keseringan rapat atau diskusi, ntar jadi keNGO-NGOan loh :p.
Lebih baik jadi kapitalis tapi berjiwa sosialis, daripada macak dadi sosialis asline kapitalis. apalagi kalau sampai jualan keringat orang lain
oh lali, itu link ke uconk sakjane ke faizal.web.id bos.
Wandi, keresahanmu ini telah menjadi Skripsiku pada 2002 lalu. Aku melihat (ke)banyakan NGO mengeskploitasi volunteerism yang dimiliki mahasiswa yang ingin terlibat di gerakan NGO. Orang-orang tua di NGO mengatakan tidak ada uang yang cukup untuk menggaji orang, jadi ya… sukarela saja kalau mau bergabung. Sementara uang yang ada di NGO itu banyak yang masuk kantong “aktivis” tua tanpa ada yang berani mempertanyakan kemana uang itu larinya. Juga, NGO yang ada menjadi kendaraan politik untuk dapat uang lebih banyak.
Secara ideologi gerakan, maaf, aku tidak percaya perjuangan NGO mampu melawan musuh nomor satu dunia, biangnya ketimpangan ekonomi Utara-Selatan, bertambah miskinnya penduduk di negara-negara kaya Sumber Daya Alam, tingginya tingkat pelanggaran HAM: Kapitalisme/kerakusan manusia. Wong fundingnya sendiri mengarahkan kemana NGO harus bergerak, isu mana yang bisa dibiayai dan mana yang tidak, kenapa isu ini boleh sementara yang lain jangan.
Siapa sih yang tidak kenal Todung, ABN, yang semuanya membela pengusaha-pengusaha yang merusak lingkungan? Sekarang, senior-senior gue dulu malah kerja di organisasi funding bahkan di lembaga yang paling berdosa atas rusaknya Indonesia: Bank Dunia. Udah gitu, masih juga ngecap,”Hayo kita perjuangkan keadilan, mari hapuskan kemiskinan, awasi pembangunan, bla bla bla.
Ke laut aja deh…
@dudi:
herman, maksud dudi adalah, lebih baik menjadi pekerja yang mencari uang saja, tapi masih bisa berbuat baik bagi lingkungan di sekitarnya. daripada menjadi orang yang seakan-akan berbuat baik pada sekitarnya, namun tujuannya justru mencari uang semata.
rupanya mas wandi ini, memiliki harapan lebih terhadap NGO ataupun para pekerja-nya. di jakarta, NGO adalah pekerjaan. jika ditengok diluar daerah, masih banyak teman yang dari NGO, terutama yang muda, menganggap NGO adalah pilihan sadar dan semata-mata bukan mata pencaharian.
jika sesuatu melihat dari jakarta, sepertinya segalanya membuat apriori dan cenderung membawa orang untuk menggeneralisir permasalahan. hal ini sangat sering saya temui, bahkan saya sendiri sering terjebak pada wilayah itu.
kebusukan tidak hanya di NGO, setiap ranah aktivitas orang selalu saja ada varietas yg menyimpang, belum lagi sekarang ini NGO menjadi menjamur dan banyak yg berselingkuh. saya sekarang masih di NGO, beberapa kali melihat selingkuhan, kebusukan dan pembusukan terjadi, namun hal baik masih bisa diharapkan disana.
herman: ya penjelasan dari wandi aku pikir udah mewakili yang pengen aku jelaskan.
oh iya, satu lagi.
kalo orang cari duit di NGO dalihnya selalu bilang SUSTAINABILITY. misalnya “program ini kita bagus, jadi butuh funding dlm nilai besar biar bisa sustain dalam waktu yang lama”. Faktanya: duit jumlah besar itu hanya sedikit yang terealisasi dan sisanya jadi KEUNTUNGAN biar bisa masuk kantong pribadi.
Kalo di kapitalis kan beda, tujuannya sejak awal sudah jelas kalau ingin mengeruk KEUNTUNGAN sebesar-besarnya dan itu sah-sah aja. syukur-syukur kalo sisanya bisa buat kegiatan sosial. Kalo kata seorang kawan “JADI KAYA ITU SAH-SAHA AJA KOK” yang penting caranya bener dan tidak mengganggu masyarakat.
BTW, sekarang ini kan hampir semua company punya yang namanya CSR (Company Social Responsibility). Faktanya, hampir sebagian besar dana ini diserap oleh NGO-NGO lokal loh :D.
ndi, link uconk itu yang bener faizal.web.id
sudah dibenerin link-nya.
terima kasih dudi ngingatin wandi..
terima kasih wandi, mau diingetin dudi..
terima kasih wandi dan dudi yang mau mengingatkan aku..
Di, hal ini membayangi aku 2 tahun yang lalu. Sampai sekarang hantu itu terus membayangiku. Bosan, jengah sudah bercampur jadi satu. Sangat sulit terkadang untuk memisahkannya.
Tapi begitupun, dunia NGO kalo menurutku adalah dunia kontradiktif. Campur baur antara idealisme, kebutuhan dan keinginan sudah menjadi sarana dan tantangan tersendiri.
..he..he..sok-sokan aku yah ngasih komentar. Gak nyambung kali..hi..hi..
Kalo ke Medan, kontak gw dunk.
ngapain “kerja” di NGO kalau mikir kepuasan diri sendiri dan eksistensi komunitas. apalagi klo di ngo hanya untuk genit2an en jadi selebritis. bukannya di NGO kita harusnya mengabdi pada Sang Korban ?..
Itu sih idealnya, namun ?…
SEMOGA berguna buat intropeksi
KENAPA KITA MENJADI AKTIVIS
DAN KENAPA KITA MASIH BEKERJA DI NGO
Setiap Orang tua pasti menginginkan anaknya untuk sukses dalam bekerja dimana katagori sukses menurut orang tua adalah menjadi PNS atau pegawai kantoran,bahkan yang bapaknya tentara pasti ingin putranya jadi penerus untuk jadi tentara. Namun pernahkan ada orang tua yang menyarankan anak atau menantunya untuk bekerja menjadi aktivis, atau menjadi sang demonstran…?
Kata aktivis dalam penyerapan bahasa Indonesia adalah seorang yang aktif dalam berkegiatan atau orang yang dalam kehidupannya total memperjuangkan tujuan atau cita-citanya.
SEJARAH PERGERAKAN BANGSA DAN AKTIVIS
Bila kita masih dapat mengingat pelajaran sejarah dari zaman masih duduk di bangku sekolah sampai kuliah, maka kita tak bisa pungkirin bahwa kemerdekaan bangsa ini karena adanya aktivis-aktivis yang lahir dari para pemuda bangsa indoneisa, di mana di jaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya jaman era kebangkitan bangsa para pemuda di Indonesia menyatakan satu visi, satu idiologi dalam sebuah kesamaan, yaitu sama dalam berbahasa, dan sama dalam berkebangsaan, hingga lahirlah sumpah pemuda, yang diprakasai oleh para pemuda dari berbagai pelosok negeri ini, dimana mereka total berjuang, total berpikir, total dalam kehidupannnya memperjuangkan nasip bangsanya, mereka semua adalah para aktivis sejati, aktivis kepemudaan bangsaan Indonesia dizamannya .
Aktivis-aktivis pemuda tersebut datang dari berbagai pelosok belahan bumi nusantara, dengan berbekal semangat dan pemikiran dari hati, berjuang tanpa dibayar, tanpa mengharap pujian tanpa ada embel embel pamrih, mereka hanya karena bekerja dengan hati.
Di era 60an lahir juga aktivis-aktivis dari dunia kemahasiswaan yang bicara dari hati, bicara tanpa ada rasa pamrih untuk sebuah perubahaan negara, yang pada saat itu banyak ketimpangan di negeri Indonesia. Walaupun pada akhirnya para aktivis tersebut dapat diketahui motif dalam perjuangannya, dimana terlihat siapa yang menjadi penjilat, siapa yang benar-benar sang demonstran, sang aktivis yang memperjuangkan nasip NEGARA tanpa mengharap balas jasa dan imbalan dari Negara ini.
Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh para penerusnya yang masih memiliki keidialisan, pada era tahun 70an dimana para pemuda, mahasiswa mulai gerah melihat ketidak adilan yang dilakukan oleh pemimpin di jaman orde baru. Hingga lahirlah aktivis-aktivis baru, baik dari balik kampus ataupun yang lahir dari organisasi kepemudaan di Indonesia, dimana mereka membentuk kelompok diskusi, membuat kegiatan, membangun perkumpulan-perkumpulan. Hingga akhirnya bak jamur di musim hujan dengan gerakan baru yang mulai merumuskan apa yang ada dalam pikiran dan perdebatan mereka menjadi suatu konsep tanding dalam pembangunan versi pemerintah orde baru.
Gerakan para aktivis tersebut di bangun untuk sebuah perubahan masyarakat baik dalam berpikir, berpolitik, maupun perubahan dalam proses pembangunan yang dapat melibatkan masyarakat. Para aktivis, pemuda, mahasiswa ini merupakan cikal bakal sebuah Organisan Non Government (red: baca LSM/NGO) atau ornop yang saat sangat berkembang pesat di Indonesia. Lahirnya organisasi-organisasi tersebut baik kepemudaan, senat mahasiswa atau para pecinta alam menambah dinamika pergerakan perubahan negara. Namun kearoganan penguasa yang saat itu diktaktor, membuat banyak aktivis-aktivis tersebut harus menjadi korban baik penculikan, masuk penjara, bahkan hilang tanpa kabar berita hingga saat ini.
Di tahun 1998 genderang reformasi ditabuh dan mulailah bak jamur di musim hujan dimana tumbuh berbagai macam Yayasan, LSM yang memiliki Fokus dan kegiatannya beragam, visi, misi, pendekatan, dan isu yang dikembangkannya terbilang sangat luas dan banyak. Saat ini kita dapat melihat aktivis dari fokus kegiatan yang dilakukan, dan munculah sederet sebutan yang saat ini tak asing lagi bagi kita baik aktivis perempuan, aktivis HAM, aktivis hukum, aktivis lingkungan, bahkan aktivis satwa yang memperjuangkan nasip satwa dari eksploitasi manusia.
GAYA HIDUP AKTIVIS
Tak dipungkiri saat ini, bekerja menjadi aktivis atau bekerja di sebuah NGO menjadi sebuah pilihan hidup selain menjadi PNS, bahkan menjadi trand mode para pejabat, artis atau pengusaha, disatu sisi ada nilai positif yang dapat kita ambil dimana apa yang kita perjuangkan ternyata telah membumi, dan masyarakatpun akhinya memahami gerakan atau perjuangan yang dibangun oleh lembaga atau NGO tersebut.
Di sisi lain ada banyak para pejabat, artis, pengusaha yang ikut andil bahkan berjuang demi perubahan dengan sebuah gerakan dari visi organisasi atau perkumpulan tersebut, walaupun ada yang sebagian dari mereka yang mau bekerja menjadi icon sebuah gerakan dari sebuah organisasi, karena bayaranya besar atau bisa menambah popularitas, namun ada juga segelitir artis pejabat yang memang dengan tulus dan dari hati bahkan menolak untuk dibayar, bahkan juga ada para artis, pejabat dan pengusaha tersebut bekerja membantu sebuah NGO atau sebuah perjuangan dari hati yang tulus. Dimana mereka bekerja membantu sebuah perjuangan tanpa di bayar, tanpa imbalan, bahkan justru mereka dengan tulus mengerahkan segenap pemikiran fisik dan harta untuk sebuah perjuangan.
Dengan menjadi trand hidup seperti itu kadang kita sulit mengetahui yg mana aktivis sejati, yang mana benar-benar bekerja dari hati, fokus dan total dalam hidupnya untuk sebuah perubahan dari apa yang diperjuangkannya. Seorang aktivis sejati maka dalam kepribadiannya hidup sehari-hari akan diwujudkan, misalnya serorang aktivis perlindungan satwa liar, dia tidak akan memlihara satwa liar, dia tidak menggunakan bahan2 aksesoris pakaian ataupun marchandes yang menggukan bahan dari satwa liar, dia tidak pernah menyakiti satwa dan memahami kebebasan satwa liar, begitupun aktivis lingkungan dia akan selalu menggunakan bahan yang dapat di daur ulang, tidak boros dalam penggunaan bahan-bahan yang berasal dari sumberdaya alam, menjaga lingkungan dan kesehatan di sekitaranya, dll. Pada intinya kepribadiannya akan terihat dari apa yang diperjuangkanya.
Nah kalau aktivis yang ikut-ikutan atau korban trand mode bagaimana, yah ini sangat kelihatan, ada artis ikut-ikuatn menjadi aktivis perlindungan satwa karena biar tambah tenar, tambah populer, eh pas buat film, ataupun video clip malah menggunakan satwa sebagai objeknya, selain itu ada juga seorang artis dan pejabat dimana dia melakukan kampanye perlindungan satwa liar di TV-TV, di Koran, menggalang donasi dengan pameran-pameran dan lain-lainnya, eh gak taunya dia malah tukang koleksi satwa liar, ada yang juga artis yang berkampanye tentang bahaya narkoba, pokoknya dia aktivis banget dari cara bicaranya yang berapi-api dimana terlihat bahwa dia memahami bahaya dunia narkoba, eh ujungnya ternyata terungkap kalu dia bandar narkoba.
Di dunia pecinta alam juga terjadi, terkadang temen-temen yang gaya pakainya, seperti dandanan pecinta alam namun ternyata saat naik gunung buang sampah sembarangan, ada juga yang memang anggota pecinta alam, dari cara bicara, pemikiran gaya hidup bener pecinta alam, eh gak taunya ternyata cuma still gaya hidup doang, saat di ajak aksi dalam memperjuangkan lingkungan yang caranya agak sedikit kontroversial malah mikir-mikir malah menghilang duluan dengan berbagai macam alasan.
AKTIVIS DAN GERAKAN NGO
Di zaman demokrasi pasca reformasi, yang ternyata membawa iklim baik bagi pergerakan aktivis di indonesia dimana mereka saat ini bekerja dengan di naungi oleh sebuah lembaga yang mempunyai payung hukum, ada yang berbentuk yayasan, perkumpulan,dll, begitupun gerak tujuannya. Namun sayangnya pergerakan tersebut tak jarang lari dari sebuah rel yang seharusnya di emban NGO, maka tak heran seharusnya fungsi NGO adalah menjadi mitra pemerintah, atau meluruskan gerakan dari pemerintah yang terkadang sering keluar dari relnya. Maka tak heran ketika pemerintah berbuat salah, maka sejumlah kelompok NGO melakukan protes dan memberikan berbagi macam solusi untuk pemerintah, bila NGO bekerja sebagaimana mestinya dan ada kelegowoan dari pemerintah yang mau menerima kritik, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang dewasa yang pada akhirnya menjadi basang yang berkarakter, maju di segala bidang.
Namun sayangnya pemerintah kadang ngeyel, atau mencari celah dengan pembenaran- pembenaran, atau tidak mau menerima kritik, sehinga terbentuk lah sebuah lembaga –NGO yang di buat untuk memuluskan atau mendukung pemerintah yang salah, hingga tak asing lagi bila kita melihat adanya perbedaan yang kental dari sebuah NGO, beberapa teman sering menyebut ada NGO Plat HITAM, NGO Plat Kuning, Dan NGO PLAT MERAH, yah seperti nomor polisi pada kedaraan bermotor, kalau hitam artinya NGO itu dikuasai perorangan visi-misinya untuk kepentingan perorangan, biasanya NGO seperti ini didirikan untuk kepentingan seseorang yang arah tujuannya bukan untuk masyrakat, namun untuk kepentingan pribadi, atau bahkan NGO plat hitam ini cuman sekedar berdiri dan punya nama, cuman program tergantung funding, kalau ada funding tentang hutan maka membuat program tentang hutan, kalau ada funding tentang pemberdayaan masyarakat maka program pemberdayaan di buat, kalau ada funding ngurusin gender maka kegiatanyapun bicara Gender, kalau ada bencana maka ngurusin bencana, dari evakuasi sampai menyalurkan bantuan, yah tergantung duit. Bila dilihat NGO seperti ini bekerja hanya berdasarkan kepentingan, baik kepentingan pribadi, pesanan seseroang, pesanan funding, hebatnya NGO seperti ini serba bisa di segala bidang pokoknya, tapi NGO Plat hitam ini tidak pernah fokus dalam bergerak.
Kalau Plat Merah, yah namanya plat merah berati punya pemerintah, artinya NGO ini dibuat berdasakan pesanan pemerintah, biasanya NGO ini kaya, karena punya kucuran dana yang segar, baik dari APBN atau APBD, seharusnya kalau punya pemerintah ya memperjuangkan kepentingan rakyat, namun tak jarang malah diselewengkan untuk memperjuangkan kepentingan pemimpin, atau pesanan pejabat.
Nah Gimana kalau PLAT kuning, Namanya aja Plat Kuning, berati punya rakyat, lahir dari penderitaan untuk kepentingan rakyat walaupun didirikan oleh segelintir orang atau kelompok, namun NGO Plat kuning ini fokus dalam bekerja, mereka sudah memilih jalan gerakannya ada duit gak ada duit mereka tetap bekerja di relnya, misanya dapat funding gak dapet funding tetap bekerja ngurusiin hutan,terserah isu yang berkembang yang lagi ngetrend di bidang lain mereka tetap ngurusin hutan walaupun gak ada funding yang mau membiayaai, NGO Plat kuning ini telah fokus dalam memperjuangkan visi dan misinya, biasanya lahir dari rasa ketidak puasan terhadap kinerja pemerintah, mereka bekerja dari hati untuk sebuah perubahan, namanya kerja dari hati kenikmatan yang dicari adalah kepuasan batin, bila tujuannya telah di capai.
Saat ini rakyat indonesia sudah cerdas dalam menilai sebuah gerakan massa, apakah gerakan itu ditunggani ada unsur politik praktis, atau murni, namun inilah sebuah kesalahan NGO di indonesia, sehingga terkadang muncul sebuah image buruk,contohnya, mas kerja di LSM ya, wah gajinya gede tuh, kan dapat dana dari luar negeri, ya biasanya uannya gak pernah kena audit, lain kalau pemerintah kan ada BPK, mau korupsi paling gampang kok kerja di NGO, wah mumpung dapet funding yah bisalah di kutit dikit uang rakyat ini……inilah yang membuat image buruk pergerakan NGO di Indonesia, karena gerakannya tidak murni, bahkan di beberapa daerah sebuah NGO di tolak masuk,karena tidak disukai cara gerakan atau programmnya tidak menyentuh masyarakat, bahkan ada juga sebuah NGO di tolak masuk kedaerah dengan NGO lokal, karena programnya bagi-bagi uang yang tidak mencerdaskan rakyat, bahkan ada sebuah NGO yang menjual hasil karya ngo lain untuk sebuah funding wah pokoknya banyak deh………..
SAYA BANGGA MENJADI AKTIVIS SATWA LIAR
Lahirnya gerakan lingungan di Indonesia banyak disebabkan karena ketidakpuasan atas kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunnan yang lebih memihak pada kepentingan bisnis dibanding kepentingan ekologis, selain itu juga banyak yang dipengaruhi karena ketidakpuasan terhadap produk hukum yang dikeluarkan oleh Negara. yang berujung pada ketidakseriusan dalam menindak kejahatan di bidang lingkungan. Tak ayal akhirnya para pelaku gerakan lingkungan ini lebih banyak mengelurkan konsep-kosep tandingan untuk pemerintah yang lebih banyaknya tidak seriusnya dalam bekerja menangani kejahatan di bidang lingkungan, satu contoh adalah kinerja pemerintah dalam menangani illegal logging, yang mana sampai saat ini pemerintah masih mandul dalam upaya penegakan hukum, dan berunjung dengan kerja para aktivis yang melakukan yang seharusnya dilakukan pemerintah dan kepolisian, seperti melakukan intelegent dengan maksud membokar jaringan illegal logging, yang nyatanya para pelaku tersbut malah lebih banyak para cukong yang juga melibatkan para petinggi Negara seperti, anggota DPR, dan juga petinggid di kepolisian baik tingkat daerah ataupun di Markas besarnya.
Tidak saja kasus illegal logging, kasus, perdagaangan satwa juga pernah terkuat oleh para aktivis satwa, yang ternyata perdagangan satwa dilindungi justru didalangi para pejabat di DEPHUT, salah satu kasusnya adalah laporan Intelegent tentang Saudagar Dari SALEMBA, yang mana hasil intelegent para aktivis satwa tersebut direkam menjadi sebuah documenter pembuktian, keterlibatan para pejabat di Balai KSDA DKI JAKARTA, tak hanya satu kali departmenet yang memiliki tupoksi dalam menjaga fungsi ekologis dan keanekaragaman hayati idnonesia, terlibat dalam urusan bisnis satwa yang menggiurkan
Ditahun 2001 Sebuah gerakan NGO lokal Indonesia yang bekerja di bidang perlindungan satwa liar dengan didukung para anggotanya, yang juga semuanya adalah para aktivis dan masyarakat yang peduli terhadap kelestarian satwa liar di alam, telah membongkar penyelundupan burung Nuri dan Kakatua dilindungi dari Maluku, dimana ribuan burung paruh bengkok dilindungi tersebut diangkut dengan surat angkut ASPAL yang dikeluarkan BKSDA MALUKU, kotak-kotak yang dikirim berdasarkan surat merupakan jenis burung yang tidak dilidnungi, namun nyatanya berisi ratusan Nuri dan kakatua yang telah terancam punah di kirim untuk perluan para eksportir satwa di Jakarta.
Pada tahun 2003 organisas tersebut juga membongkar sindikat perdagangan gelap Orang Utan yang ternyata ratusanan orang Utan Asal idnonesia di selundupkan kesejumlah Negara di asean, salah satunya Tailand untuk keperluan animal show, dimana orangutan tersebut di jadikan adu tinju, untuk menarik perhatian wisata yang ujungnya adalah pemasukan untuk thailan,…..berulang kali NGO Tersebut mendorong pemerintah Indonesia untuk bertindak, namun nyatanya Deaprtemen kehutanan diam tak berkutik, hingga ankhirnya perjuangan selam 3 tahun dengan keringat, dengan ancaman, sejumlah orang utan tersbut dikembalikan ke Indonesia.
Di Tahun 2007, NGO Ini juga membongkar indikasi perdagangan gading gajah yang harganya mencapai milyaran rupiah, di BKSDA Bengkulu SUMATERA yang ternyata gading tersbut merupakan sitaan milik Negara yang diperdagangangkan oleh para pegawai di KSDA tersebut, namun syaangnya Penyidik dari Dephut, sampai dengan saat ini belum memberikan keputusan yang pasti dalam kasus ini. Tak ahasanya di Indonesia timur, di Jakarta, dan di Bengkulu pada awal bulan Juni lalu NGO ini telah melounching sebuah film hasil Investigasi perdagangan satwa di Medan, yang ujungnya juga melibatkan para petugas KSDA di Medan, ini benar-benar memalukan dan mencoreng nama Dephut. Namun tak heran bila ada pepatah maling teriak maling, ya itulah mereka para pegawai Negeri di Negara Indonensia. Yang bekerja tidak untuk menyelesaikan masalah, namun mencari pemebnaran-pembenaran , agar tak tergesar dari kursi empuknya.
Dan tak heran juga para aktivis yang bekerja dengan hati ini, sering kali medapat ancaman terror dan acaman pembunuhan maupun penculikan, bahkan merka penah menjadi serangan massa yang merupakan para pedagang satwa di pasar burung Pramuka Jakarta. Namun daya juang para aktivis ini tak pernah luntur, tak pernah termakan usia,salah seorang bapak seorang anak yang merupakan bekerja sebagai aktivis di NGO Satwa liar mengatakan bahwa…..”bapak saya selama 30 tahun jadi PNS mengapdi untuk negara tak pernah terbersit untuk melakukan tindak Korupsi dan penyelewengan wewenang, Ini baru jadi PNS berapa tahun aja, udah bertikah, sudah buat surat aspal, untuk menyelundupakan satwa, Apa kata dunia….? Karena itulah saya masih bekerja dengan hati untuk menjadi aktivis satwa”.
Ini pentingnya saling berbagi. Yang pernah kerja di NGO nakal atau tahu persis kecurangan NGO, dibuka aja di sini. Demikian juga kalau kita menemukan jalannya kinerja pemerintah, swasta atau lembaga apapun yang gak bener juga dibuka aja. Dengan demikian kalau diambil sisi positifnya akan memperkaya pemahaman kita tentang NGO dan GO, tentang bagaimana yang seharusnya. Bukan yang penuh rekayasa dan kepentingan kantong sendiri. Apa masih ada yang benar-benar membela HAM, menentang ketidakadilan dan membela ibu pertiwi ini? Kurasa masih. Selama di NGO atau GO itu dihuni oleh orang-orang yang batinnya conscience dengan kuat akan HAM, penghargaan terhadap lingkungan dan tidak mementingkan kantong pribadi maka dunia ini masih terasa indah. Ketidakadilan tetap menari-nari di depan mata, justru itulah gunanya orang-orang berhati nurani itu ada pada posisi apapun dan di manapun baik di dalam NGO atau kita dalam GO.