Kau Angin
Semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
kau menggasing bagai angin
Peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah
adalah ibadah bagi Cinta tak berjamah
Di situ, kunikmatkan teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi
Aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemu dedahan bergesekan
Aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di kedalaman rinduku
Kini aku tahu, tak perlu memburumu
Kau hidup di dalam dan di luar diriku
- tak berjarak namn teramat jauh
teramat dekat namun tak tersentuh
Jika benar kaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
Dalam jantung yang berdegup
kau gairah baru bagi hidup
Mengalirlah dalam darah, mengalir
dalam urat nadi Cintaku
karenamu, Kekasihku!
(Kau Angin, Sitok Srengenge)
saya tulis copy paste sajak ini, saat hati sedang gundah di bumi nanggroe.


Pertamax
Jancuk on, aku nulis ini sambil nangis. Hahahaha…
semakin jauh aja …
Masih di NAD toh…?
Masih di NAD toh….?