Soundtrack Perjalanan
Saya suka dan sering melakukan perjalanan. Dan, kebanyakan perjalanan yang saya lakukan menggunakan kendaraan umum. Salah satunya adalah bus. Nah, acapkali dalam bus dialunkan lagu-lagu cengeng. Bukan sekedar cengeng, namun juga melengking-lengking. Biasanya, dalam satu album terselip satu-dua lagu cengeng melengking berbahasa daerah.
Nama-nama seperti Panbers atau Pandjaitan Bersaudara, Pance Pondaag, Deddy Dores, Dian Pishesha dan sebagainya seakan menjadi spare-part bus antar kota. Baik dalam maupun antar propinsi. Tak terpisahkan.
Kini, jika saya mendengar lagu cengeng melengking, tiba-tiba ada bayangan terbentuk di depan mata. Tiba-tiba saya merasa sedang di dalam bus besar, yang sedang melaju di jalan kosong, kaca-kaca bus terbuka untuk sirkulasi, sopir merokok, penumpang diam tidur berkeringat, suasana panas, di sebelah kanan jalan ada sawah terbentang, kabel listrik menggantung di sepanjang jalan. Intinya: saya merasa perjalanan tak akan berakhir kalau denger lagu cengeng melengking.
A rrrggghhhh! Saya suka perjalanan tapi tidak suka cengeng melengking. Seperti ini:
Tiada tujuan yang kau harap
Mata angin tak kau hiraukan
Ke barat kau melangkah
Ke timur juga kau tuju
Ke utara kau pergi
Ke selatan pun engkau berlari
Musafir, hidupmu bebas tiada ikatan.
Musafir, berkelana sepanjang waktu.
Musafir, apakah yang engkau cari?
Musafir, apakah arti hidupmu?
Tiada siang maupun malam
Kau pergi sekehendak hatimu
Musafir, hidupmu bebas tiada ikatan.
Musafir, berkelana sepanjang waktu.
Musafir, apakah yang engkau cari?
Musafir, apakah arti hidupmu?
Musafir, apakah arti hidupmu?
(Musafir, Panbers)


Jadi apa arti hidupmu mas Wandi
*maaf saya sudah menikah*
;))
cuk kedisien nulis iki..
aku juga punya nasib sam saat naik bus malam
kok gak modon tekan bis ae. gitu aja kok repot
melankolisssss!!!!