iNai
Semalam sebelum saya menikah -Ya! Saya sudah menikah-, ada acara yang disebut Ba Inai. Orang Jawa menyebutnya Midodareni. Ritual sehari sebelum pernikahan ini dilakukan karena MyRinda -istri saya- memiliki keturunan Sumatera. Malam Ba Inai adalah malam saat ber- atau memakai inai (pacar atau kuteks Arab). Acara ini dilakukan saat seorang gadis akan memasuki hidup herumah tangga. Jadi tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya akan berpindah ke suaminya.
Inai dipasang di kuku, tangan dan lengan MyRinda -istri saya-. Modelnya berbunga-bunga begitu. Saya pun tak ketinggalan. Pada kuku jari jempol kedua tangan diberi inai. Kata seorang keluarga, itu sebagai tanda. Agar besok, saat pernikahan dilangsungkan, tidak ada pergantian mempelai pria. Karena sudah ditandai. Hahahaha…
Beberapa hari lalu saya pergi ke NAD, dan menemukan fenomena unik soal inai. Inai di NAD dipasang dalam berbagai model. Dan bukan hanya dipakai bagi calon mempelai saja. Banyak gadis -tepatnya belum menikah, soal masih gadis atau bukan saya tidak tahu- yang menggunakan inai di tangan dan lengannya. Mungkin karena biar bisa bergandengan tangan dengan pacarnya. Sebab, orang mengira dia sudah menikah atau pengantin baru karena masih banyak inai di tangannya.
Jasa pembuatan inai di NAD juga unik. Sebuah mobil yang dimodifikasi menjadi moko (mobil toko), dijaga anak-anak muda berjiwa seniman dan menyediakan berbagai souvenir khas NAD. Malam itu, mobil ada di samping Masjid Baitur Rahman, Banda Aceh. Saya ke sana dengan teman-teman AirPutih dan FFI. Idenya dari Tasya, Ny. Koordinator AirPutih Banda Aceh.
Semua rombongan, minus Roim, Okta dan Faisal, memasang inai di badannya. Iep misalnya, memilih motif matahari di tengkuknya. Oni memilih motif klasik bunga-bunga. Saya sendiri memilih seperti di samping ini. Keren ga? Hehehehe…
Kini saatnya saya menunggu MyRinda -istri saya- marah-marah. Karena dia belum melihat langsung, jadi belum ada kesempatan marah-marah. Semoga tidak marah. Karena saya melakukan ini untuk dia juga. Sebagai pengingat di malam Ba Inai kami. Sebagai nostalgia masa-masa bahagia 6 tahun lalu… *alasan*
Jika lancar, tato berikutnya saya pasang di perut atau lengan kanan. Bentuknya kecoak. Biar seakan-akan ada kecoak keluar dari lengan baju atau celana saya. Hihihih… Dilanjutkan dengan semut berbaris di leher. Hmmm… can’t hardly wait!


ditunggu gambar kecoak dan semut-semutnya kekeke..
itu gambar ibab/ curut ?
* ga keliatan
bah! orang medan kok gak berani pake tato beneran :p
# rudy
gambar raimu
# dudi
sama dengan anak tentara kok ga sangar
@wandi : anake dudi mben bakal koyok opo yoh? hahaha
sangar tenan koyok kuburan
Ha ha ha. Dulu sering lihat gadis kalau dah ada inainya di kuku berarti sudah disunting orang. Saya mempersunting gadis Jawa, jadi tidak sempat pake inai seperti teman-teman bermain waktu kecil di Bengkulu.
apa mau pinjem cicak ku yg di kaki brur…hehehehehe perasaan aku ada inai permanen di badan malah jadi masalah pas siraman sebelum nikah…hahahahaha (salah pilih pasangan yah brur…sakjane aku kawin karo wong sumatra ben gak kaget ono inai permanen
sing gawe sangar awake wandi krn tato gajah?sejak kapan gajah jd sangar?setauku hewan sing sangar ki singo, macan,