Terkait Tetangga Sebelah
Jika ada gajah beradu, pelanduklah yang mati di tengah-tengah, kata guru Bahasa Indonesia saya suatu ketika. Namun, ungkapan itu kini tak lagi manjur. Sebab, jika ada masalah di antara kita, yang paling repot bukan lagi pihak yang lebih kecil. Yang menjadi seksi sibuk dalam sebuah masalah adalah Pihak Terkait. Tidak percaya? Simak beberapa kalimat berikut ini, yang saya yakin, sering kita dengar dalam keseharian.
“Masalah ini akan kami teruskan pada Pihak Terkait, agar diselesaikan segera.”
Lihat! Pihak Terkait disuruh cari solusi untuk masalah yang Pihak Terkait pun tidak tahu masalahnya.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Terkait untuk mencari solusi mengenai permasalahan ini.”
Dinas Terkait sungguh sial. Tidak punya kantor, papan nama dan staf, namun disuruh mencari solusi.
“Seluruh Instansi Terkait akan kami perintahkan untuk berembug mencari pemecahan terbaik bagi masalah ini.”
Ada berapa jumlah Instansi Terkait di Indonesia?
Hal senada dengan Pihak Terkait juga penyebaran informasi. Sumber informasi, khususnya dalam bentuk digital, bukan lagi si Pakar atau si Ahli. Tetapi Milis Tetangga atau Milis Sebelah. Simak deh pesan-pesan dalam inbox email Anda. Beberapa pasti ada yang diawali dengan, “Dikutip dari milis tetangga.” Atau “Dapat info dari milis sebelah.”
Kasihan sekali moderator milis sebelah. Milis yang sungguh-sungguh ada ini, menjadi milis biang kerok. Sumber informasi tidak jelas yang di-forward berantai. Padahal milis sebelah hanya milis sederhana, dengan posting sedikit yang membahas milis-milis lainnya. Nasib serupa dengan milis tetangga. Milis yang sederhana, sedikit posting dan sedikit member, namun selalu menjadi rujukan milis-milis lain.
Kenapa kita selalu meng-kambinghitam-kan sumber masalah dan mencari rujukan solusi pada hal-hal absurd?
![]()


wahahahahhaa…..
yg hitam gak cuma kambing
;))
# gunadum
faisal juga…
ikie membahas tata bahasa atau curhatan seh ndi?
kekekeke
itu namanya ajian “ngeles” kekeke…
kalo gitu aku mau bikin “Departemen Terkait” dan aku akan menujuk salah satu teman ku untuk menjadi “Menteri Terkait” sedangkan aku, cukup menjadi “Staf Terkait” di “Departemen Tersebut Diatas”