Dewan Pembina Sinetron Republik Indonesia
dari sebuah diskusi di DIY, dengan IA dan RJ.
Dewan Pembina dalam sebuah struktur yayasan, tak ubahnya seperti sinetron. Mereka suka mengumbar mimpi-mimpi, wacana dan konsep yang absurd. Menampilkan keglamouran dan keindahan masa depan: civil society. Menghamburkan ilusi, menabur utopia: masyarakat sipil yang berdaya. Bandingkan dengan sinetron kita: wajah-wajah cantik tak berdaki, tubuh mulus yang tak pernah luka, rumah mewah dan tidak ada derita selain rebutan pacar.
Keduanya sama: tidak membumi.
Lalu muncul pertanyaan, apa guna adanya Dewan Pembina? Saya sendiri juga tidak tahu dan merasa tidak etis menjawabnya. Hehehe… Lebih baik saya cerita sedikit, apa itu Dewan Pembina dalam sebuah yayasan.
Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh yayasan-yayasan di Indonesia dalam menentukan personal di Dewan Pembina. Pertama, para pendiri yayasan tersebut. Kedua, orang yang dianggap bisa menjadi pemersatu. Ketiga, sosok yang punya akses ke resource yang bisa menguntungkan organisasi tersebut.
Dalam keseharian sebuah lembaga, Dewan Pembina dan Dewan Pengawas yang bisa disebut board, tidak boleh -dan memang sebaiknya begitu- ikut campur dalam hal-hal teknis. Misalnya implementasi program, menjadi staf pelaksana dan sebagainya. Sebagai konsekuensi, Dewan Pembina dan Dewan Pengawas tidak boleh menerima kontrapretasi berupa gaji serta honor.
Kewenangan Dewan Pembina, biasanya adalah pemegang kekuasaan tertinggi, menyetujui semua jenis peraturan, ketentuan serta program kerja yang diusulkan pengurus. Dewan Pembina bisa membubarkan lembaga seketika. Beberapa lembaga bahkan menyebutkan secara terbuka dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya: semua aktifitas lembaga harus dengan persetujuan Dewan Pembina.
Dari segala kemewahan kewenangan Dewan Pembina, maka ada sebuah pertanyaan menggelitik, “Lembaga non pemerintahan yang memimpikan masyarakat sipil berdaya, tapi kok strukturnya feodal dan otoriter ya?”. Anehnya, ada juga orang yang jadi board di banyak lembaga. Apa yang dicari mereka ya? Prestise? Popularitas? Pertanyaan terakhir, “Antara board dan lembaga, siapa memanfaatkan siapa?”.
Inilah bedanya dengan sinetron. Dalam hal ini, sinetron jauh lebih terhormat dari pada lembaga non pemerintah. Dalam dunia sinetron, peran semua orang jelas. Dan dalam sinetron, orang jelas yang dicari: duit dan popularitas. Sementara di lembaga kemasyrakatan, yang dicari sangat absurd dan sok heroik.
PS. Saya sendiri adalah board di dua lembaga. Hehehe… Belum memecahkan rekor sih, banyak yang jadi board di banyak lembaga yang berbeda-beda isunya.


hihiii…ini refleksi atau penyesalan ya? Jangan kecil hati dulu, meski ga sejelas sinetron, board tetap dibutuhkan lhoo…Sehingga siapa memanfaatkan siapa, menurutku jawabannya bisa dua-duanya. Karena sebuah lembaga butuh orang2 “absurd” dan “sok heroik” untuk membuktikan dirinya lebih kongkrit dan heroik..
gak butuh board …
temen ta IM?
kembalikan ke masa-masa kampus. kekuasaan tertinggi ada di rapat anggota. *miss that moment, gebrak2 meja, gak ada yang feodal sama sekali*
Net, dulu AD/ART YAP menyebutkan kekuasaan tertinggi ada pada anggota. Sebenarnya itu kesepakatan “bawah tangan” kita semua. Tapi belakangan dengan alasan “bertentangan dengan UU” maka AD/ART itu dianulir sepihak. Meskipun demikian, kedua versi AD/ART itu tidak membuat YAP menjadi lebih baik. Kesimpulan sementara, masalahnya ada di SDM-nya, termasuk pembina-nya. Semuanya harus direformasi. Tinggal apakah kita bisa duduk bersama secara jujur dan tulus untuk mencari solusi terbaik?
# pataka
sotoy deh, ga tau nang AP ngomong lek ga lebih baik. wis tau duduk bersama. koen sing muncul beberapa menit trus pamit. siapa yang ga jujur dan tulus?
kacang deh din…
AP itu ibarat rumah keluarga besar, tetapi kini serasa cuma jadi tempat singgah kemudian mendadak berubah jadi pasar. Ketika datang ke rumah sendiri ternyata kita malah seperti orang yang terasing.
Perasaan ini menimpa saya dan yang lainnya. Saya hanya datang ketika dibutuhkan saja lalu seterusnya tidak ada lagi saling peduli. Setelah itu kembali terasing. Perasaan kembali pulang ke rumah itu hilang.
Kenapa?
Pertanyaan itu mestinya harus ada yang menjawab. Salah satunya pembina.
paling seneng nggepuk mejo … sambil teriak … gak butuh board !!!