Surat Mbak Suciwati…
Bapak Presiden,
Hari ini dua tahun yang lalu saya mengingatkan kembali akan tragedy sebuah kematian yang penuh konspirasi, Pembunuhan terhadap Munir. Kematian yang menyisakan tanda tanya besar tentang siapa pelaku utamanya yang sampai saat ini belum terungkap. Menusukan kedukaan yang lebih dalam bukan hanya karena kejadian jahat itu lebih karena ketidak pedulian segelintir elit dinegara ini terhadap tragedy ini, saya berharap segelintir elit itu tidak termasuk Bapak yang terhormat.
Saya masih ingat, Bapak berjanji kepada saya dan kepada rakyat Indonesia, bahwa Bapak akan menyelesaikan kasus Munir secara serius sebagai barometer bagi demokratisasi di Indonesia. Bapak Presiden juga menyatakan berkomitmen atas nama jabatan Presiden untuk menyelesaikan kasus Munir secepatnya. Bapak Presiden kemudian membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir, sekaligus juga memerintahkan aparat kepolisian melakukan penyelidikan. Sayangnya, setelah TPF menyampaikan laporan akhirnya, Bapak Presiden belum memenuhi janjinya untuk menyampaikan temuan tersebut kepada publik. Sementara hasil penyelidikan aparat yang ditindaklanjuti dengan penututan oleh Kejaksaan hanya menyebutkan satu orang tersangka, Polycarpus Budihari Priyanto, seorang pilot Garuda Indonesia.
Bapak Presiden,
Sebetulnya jelas sekali siapa dibalik pembunuhan itu, ada 41 kali komunikasi antara kantor BIN,HP Muchdi,HP Pollycarpus dan telepon rumah Pollycarpus mestinya cukup untuk meminta penjelasan keterlibatan mereka atas terjadinya pembunuhan ini. Dari anda pula TPF mendapatkan empat skenario pembunuhan Munir, ini menjelaskan sebetulnya anda tahu persis siapa yang terlibat .
Dua tahun sudah kasus ini berjalan, dan janji Bapak sedang kami tunggu bersama jutaan rakyat Indonesia. Realisasi janji yang Bapak berikan itu yang kami inginkan. Berapa lama lagi kami menunggu komitmen itu dilakukan? Berapa lama lagi kami menunggu keadilan itu hadir diantara kami para korban pelanggaran HAM?Inikah demokrasi yang akan bapak berikan kepada kami?Pembiaran terhadap pelaku-pelaku kejahatan pelanggaran HAM? Impunity yang akan Bapak reproduksi terus menerus? Pembiaran pembunuhan terhadap orang-orang kritis? Saya harap Bapak bisa memberikan kami bukti bukan hanya sekedar janji.
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,
Sebagai ayah, sebagaimana juga dirimu, sebagaimana seluruh rakyat negeri ini, MUNIR punya cita-cita, namun karena cita-cita itulah dia dibunuh, demi cita-citanya menegakkan keadilan di negeri ini, demi cita-cita anda, dan juga cita-cita seluruh rakyat negeri ini, maka saya sekali lagi meminta ketulusan hati Bapak untuk bisa mencurahkan satu komitmen yang Bapak sebut sebagai “Test for our history”, masalah yang akan menjadi tonggak tegaknya keadilan di negeri ini, agar setiap nyawa orang bisa dihargai, agar kematian Munir bisa menunjukkan pada seluruh rakyat Indonesia, bahwa mereka masih layak berharap akan datangnya sosok Ratu Adil yang mereka rindukan, agar hukum memang benar ditegakkan dan menghukum siapapun yang bersalah tidak peduli jabatan dan kekuasaan seseorang.
Bapak Presiden,
Sebagai seorang manusia biasa saya punya keterbatasan, saya pasti lelah. Namun seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus menuntut siapapun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut. Saya akan terus menagih janji, menuntut apa yang menjadi hak saya dan anak-anak saya, saya menggugat kekuasaanmu, meminta agar segala kebesaran yang ada dalam tanganmu bisa anda gunakan untuk menyeret semua pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan suami saya. Jika Bapak tidak mau menggunakan kekuasaan itu, kemuliaan para pemimpin tidaklah datang di hari kemudian, tidak juga akan datang pada saat dia tak lagi memiliki kekuasaan, kemuliaan hanya datang dari kursi yang kini tengah Bapak duduki dan apa yang anda lakukan dari atas kursi itu. Kursi itu adalah kursi yang disepuh dengan emas cinta dan kepercayaan jutaan rakyat Indonesia, tapi sepuhan itu tak akan berkilau jika tidak Bapak rawat dengan keadilan dan kebijaksanaan untuk itu lah melalui surat ini cinta dari rakyat kecil seperti saya meminta anda untuk menegakkan keadilan dari atas kursi itu. Semoga setelah membaca surat ini, Bapak bisa menjadi jawaban seluruh kerinduan tersebut.
Dengan surat ini, dengan cinta kami memintamu untuk sekedar menggunakan secuil dari kekuasaanmu untuk mencari orang-orang yang sedang bersembunyi itu, bersihkanlah gedung yang telah kau bangun, bisa saja mereka bercokol di tempat paling dekat denganmu, atau di ruang-ruang kakimu dimana birokrasi dan militer bertahta, atau mungkin di basement operasi intelijen atau di ruang mana saja, Bapaklah yang tahu bagaimana harus mencarinya.
Sementara itu tenangkanlah kami, agar kami tidak gelisah lalu marah dan kemudian menggemburkan tanah dimana gedungmu berdiri, sebab gedungmu perlahan-lahan bisa saja roboh karena goyah, karena pada saat itu terjadi kami tidak lagi berharap, karena kami sadar bahwa harapan itu adalah diri kami sendiri
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,
Sejarah punya harga abadi, sejarah negeri yang jaya tidaklah jatuh dari langit, sejarah kejayaan bukan datang karena kejadian-kejadian yang semestinya besar yang dilakukan oleh orang-orang berjiwa kerdil, sejarah kejayaan hanya datang dari rangkaian peristiwa-peristiwa kecil yang dilakukan oleh orang-orang berjiwa besar.
Surat ini datang hanya dari seorang biasa, seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang isteri yang telah dipisahkan dari suaminya dengan cara yang curang, saat ini Andalah sejarah itu, dari tangan Bapaklah pena sejarah akan menorehkan kata. Surat ini tidak akan mengubah sejarah, tapi dengan surat ini saya berharap kau tidak memilih tinta yang salah dalam menorehkan kata sejarah, sebab itu akan abadi.
Salam dariku, dari Alif dan Difa untuk segala yang kami yakini sebagai sebentuk kebenaran dan tak akan pernah henti kami perjuangkan.
Jakarta,7 September 2006
Suciwati


Lha lek seng kirim surat wong e sak juta ? mosok presiden kongkon moco sak juta surat.
kok enak presiden kerjone mek moco surat tok, mending dadi sahabat pena ae
wakakaka. draon komentar’e rek. mending dadi sahabat pena ae lek mung surat-surat’an. kakakaka
@indra
we ik, jubir presiden rek
ancene, presiden koyok sahabat pena, bukan sahabat rakyat. lha wong ga ngrungokno rakyat, tapi mek ndeloki tulisan tok.
wah ide yang cerdas!
jika akun ym sudah diblok dan didelete kenapa gak nyoba bersahabat pena? mugo sek eling no omahe hahaha
*teteup…..
Mbak Suci mbok ga usah ngoyoworo kirim surat. Lha wong ga lama lagi mau ganti presiden kok!
surate bertanggal 7 September 2006.
so, sampeyan berarti sing ngoyoworo.
mampir ngabuburit nunggu maghrib
salam kenal ya…! blognya asik, saya nyasar di blog anda tapi merasa beruntung karena tersesat di blog yang keren.
kapan mlelu kompas meneh rek
sip….blog nya tambah keren
saya sempet pesismis dengan kasus ini,tapi semangat mbak suci bener2 hebat..!!!
aku yakin,bakal ada yg terkuak setelah mudhi di adili….
smga cpt selasai masalahnya,shg penerbangan ke eropa bisa di buka lagi..