T3
Minggu lalu, saya berkesempatan melakukan review dan evaluasi keberadaan Terminal 3 di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, beberapa hari sebelum diresmikan oleh Presiden Yudhoyono. Saya melakukan aktifitas ini dalam porsi saya sebagai penilai independen yang laporannya bersifat terbuka untuk publik dan tidak terpengaruh dengan policy pengelola bandara.
Sebelum memberikan laporan review dan evaluasi, berikut ini sedikit fakta mengenai Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta:
- Terminal 3 mulai beroperasi pada Rabu 15 April 2009
- Konsep yang digunakan adalah ecomodern airport, dengan tampilan minimalis yang dekat dengan alam.
- Pembangunannya dimulai sejak tahun 2006.
- Biaya pembangunannya mencapai Rp 330 miliar, berasal dari PT Angkasa Pura.
- Melayani penerbangan domestik maskapai Mandala Airlines dan Air Asia, setidaknya hingga saat ini.
- Luasnya 30 ribu meter persegi.
- Daya tampung penumpangnya mencapai 4 juta orang per tahun.
- Memiliki 300 troli yang bisa digunakan secara gratis.
- Tidak ada porter.
Letak T3 ada setelah Terminal 2. Jadi, Anda bisa menyaksikan kesibukan di Terminal 2 dan terminal kargo dari jendela sepanjang T3. Jika Anda masuk Bandara Soekaro Hatta dari arah Jakarta,T3 terletak pada putaran kedua setelah putaran masuk Terminal 2.
Berikut hasil sekilas review dan evaluasi keberadaan Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Pertama, secara penampakan. Tidak seperti Terminal 1 atau Terminal 2 yang menggunakan ruangan boarding, T3 menggunakan sistem zona. Ada beberapa zona yang masing-masing untuk satu jadwal penerbangan. Setiap zona dengan zona lainnya tidak ada batasan tegas.
Hal ini sepertinya ditujukan untuk mengumpulkan calon penumpang dalam area yang berbeda-beda saja, tidak ada tujuan lain, karena pier atau jalan masuk ke pesawat hanya ada satu untuk semua zona. Saat check-in setiap penumpang akan diberi boarding pass dan karu zona. Karena tidak ada sekat, maka noise dari satu zona mengganggu zona lainnya. tak heran jika pengumuman untuk satu zona diumumkan melalui megaphone agar fokus ke satu zona saja.
Arsitekturnya ramah dengan kawasan tropis: atap yang tinggi dan banyak jendela. Sayang, suhunya dingin banget!
Kedua, fasilitas di dalamnya. Ada CircleK -harganya lebih mahal dibanding CircleK di luar bandara- dengan beberapa cafe yang masih belum selesai dibangun. Yang tampak sudah dibangun adalah sebuah kedai bakso saja. Smoking Area juga sudah disiapkan, namun belum bisa digunakan karena tidak adanya exhaust dan fasilitas pendukung lainnya. Ada coffe maker otomatis di setiap zona. Toilet sangat bersih. Uniknya, colokan listrik ada di bagian atas bangunan dan di belakang tempat sampah toilet. Terakhir namun sangat fatal, tidak ada hotspot -apalagi internet gratis- di T3. Oh ya, tempat sampahnya sudah dipilah berdasarkan jenisnya lho…
Ketiga, navigasi serta pergerakan alur penumpang. Papan intepretasi sangat mudah dipahami, meskipun masih dalam Bahasa Inggris saja. Saya sempat menangkap layar informasi menampilkan error message, sangat Window$. Jika Anda sudah terlanjur masuk dan ingin keluar, harus turun ke bawah terlebih dahulu melalui pintu di samping X-Ray. Hanya ada satu jalur masuk dan satu jalur keluar.
Keempat, sarana penunjang keberadaan T3. Jangan kira Anda bisa kesulitan menemukan taksi dengan mudah di T3. Karena tidak ada kuota antrian taksi, jadi setiap taksi berstiker bandara bisa sebanyaknya-banyaknya. Kemudian lapangan parkir sangat dekat dengan pintu keluar. Sehingga tidak perlu berpanas-panas ke mobil.
Terakhir, ketika pesawat Mandala Airlines membawa saya menuju Surabaya, sempat terbersit dalam benak: Apakah Pahlawan Devisa kita, para Tenaga Kerja Indonesia saat berangkat atau pulang dulu -yang diwajibkan melalui T3- merasakan kenikmatan fasilitas T3 seperti kita saat ini?
PS. Untuk menghindari kesalahpahaman posisi saya dalam menulis review serta evaluasi keberadaan terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, bahwa posisi saya adalah sebagai penilai independen. Saking independennya, sampai saya tidak disewa oleh siapapun untuk melaksanakannya. Ini murni inisiatif saya
Review terkait:


Bos… Tulisannya Bagus…. 2 Tangan Jempol Mengarah Ke Bos… Tapi Sayang Aku gak Paham Tujuan Penulis, menulis ini…. apakah ada yang di sindir dari tulisan ini…? ataukah hanya sekedar menulis, atau menulis tentang kepahlawanan seseorang…. tolong di jelaskan…… Diantara Banyak Penulis… Bos Wandi juga penulis yang kugagumi….. “Standing Applous”
lah kok podo karo aku bos? aku yo independen sisan.. independan numpak pesawaat’e alias dikongkon mbayar dewe
Lha iki piye tho, sing penting kan kanggo kemaslahatan umum, …. lha Mas Nanang koq 2 tangan jempol mengarah ke Bos , mestin’e 2 jari jempol keatas.
Syukur2 nanti tidak berhenti di T3 …. lanjut Mas, termasuk operasional dihari-hari mendatang …. jadi cerbung
Salam
toilet perempuannya gimana wan?
Lama ga ke terminal 3. Terakhir waktu pemantauan pemulangan TKI di sana. Kondisi saat itu menyedihkan: Eksploitasi saudara sebagnsa dan setanah air yang dibilang pahlawan devisa.
April lalu saya satu pesawat dari Yogya-Jakarta dengan seorang TKI yang mau ke Hongkong. Ia cerdas, tak mau pulang ke tanah air melalui bandara Cengkareng, tetapi langsung minta ke Yogya meskin kampungnya ada di Tegal. Apakah sekarang T3 masih digunakan utk pemulangan TKI?