Archive for the ‘Ga Penting’


T3

Minggu lalu, saya berkesempatan melakukan review dan evaluasi keberadaan Terminal 3 di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, beberapa hari sebelum diresmikan oleh Presiden Yudhoyono. Saya melakukan aktifitas ini dalam porsi saya sebagai penilai independen yang laporannya bersifat terbuka untuk publik dan tidak terpengaruh dengan policy pengelola bandara.
(more…)

Enaknya Menjadi (Teman) Orang Penting

menjadi orang penting itu baik,
tapi lebih penting menjadi orang baik.
(Anonymous)

Siapa sih yang tak ingin menjadi orang penting? Menjadi seleb? Masuk infotainment, ditonton berjuta mata, populer. Dan -pasti- memperoleh keistimewaan di mana-mana. Saya pernah menjadi bagian dari poin terakhir ini: memperoleh keistimewaan di mana-mana. Dan, berikut ini adalah beberapa kisahnya.
(more…)

MUI + Esia = Duet Konyol

Esia, salah satu produk yang tidak saya halalkan, menjual salah satu produknya yang diberi nama Hape Esia Hidayah. Iklannya gencar. Tidak ada yang unik dalam hape ini bagi saya. Keunggulan yang digembar-gemborkan oleh Bakrie Telecom sebagai produsernya adalah hape ini content islaminya. Misalnya pengingat adzan, quran cell hingga SMS pesan islami dari AA Gym, Dai Kondang Beristri Dua, dan teman-temannya.
Hal paling konyol dari Hape Esia Hidayah ini adalah bintang iklannya. Bukan Luna Maya berkerudung seperti di Aceh, tetapi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan terang-terangan Esia menyebutkan, bahwa Hape Esia Hidayah mendapat rekomendasi dari Komisi Fatwa MUI Pusat. Alamak!
(more…)

Gombal!

 

 

Gombal, adalah kain bekas kotor yang biasanya dijadikan sumpel atau lap barang kotor. Namun, kini gombal sudah makin ngetop. Bukan hanya sekedar dijadikan blog tenar. Namun sudah menjadi titel beberapa hal. Misalnya politis gombal: suka janji manis buat nambah suara. Selebriti gombal: maen film religi tapi gaya hidup. Ada juga gombal abu-bau. Gombal yang dibenci namun disuka dan sering juga bikin tersenyum. Namanya kalimat gombal.
Kalimat gombal lahir, IMHO, karena ada pihak yang suka ngegombal dan ada pihak satunya yang suka digombali. Kalimat gombal lahir murni dari cause demand and supply. Berikut ini beberapa kalimat gombal yang saya kumpulkan dari pengalaman pribadi berbagai sumber dan biasa saya digunakan cowok. Buat para jomblo, boleh deh dipake dengan beberapa modifikasi.

(more…)

Dewan Pembina Sinetron Republik Indonesia

dari sebuah diskusi di DIY, dengan IA dan RJ.

Dewan Pembina dalam sebuah struktur yayasan, tak ubahnya seperti sinetron. Mereka suka mengumbar mimpi-mimpi, wacana dan konsep yang absurd.  Menampilkan  keglamouran dan keindahan masa depan: civil society. Menghamburkan ilusi, menabur  utopia: masyarakat sipil yang berdaya. Bandingkan dengan sinetron kita: wajah-wajah cantik tak berdaki, tubuh mulus yang tak pernah luka, rumah mewah dan tidak ada derita selain rebutan pacar.
Keduanya sama: tidak membumi.
(more…)

Konsultan

sebuah cerita dari HB dan BB di NAD

Di sebuah hari yang terik, seorang bapak tua (Pak Badu, sebut saja begitu) sedang menggiring sekawanan sapi melintas jalan desa. Dari mobil mewah berlogo lembaga asing, keluarlah seorang bule. Sebut saja namanya John Doe. Dengan ramah, John Doe menyapa Pak Badu dengan Bahasa Indonesia ter-Cinta Laura terbata-bata, “Bolehkah chaya menebak jumlah chapi Andha? And if benar, chaya akan memincha cheekor chapi. How?”
(more…)

Sambel Goreng Jempol

Saya mau melakukan sebuah hal yang jarang saya lakukan: pengakuan akan kelemahan. Karena besarnya ego, gengsi dan jaim saya. Saya mau mengaku kalau saya cantengan. Ya, cantengan. Itu lho, kuku yang masuk ke dalam daging jari. Kemudian infeksi dan kumuh. Penyakit kaum miskin deh, kata seorang seleb. Parahnya lagi, cantengan di jari kaki ini sudah menahun. Alias pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebulan ini, rasa sakit di jempol kaki kanan semakin menjadi. Padahal, hampir setahun lalu kuku yang cantengan ini sudah dicabut. Tentu saja tidak seperti dicabut di bilik interogasi. Lha wong ini pake dokter, peralatan steril dan obat-obatan.
(more…)