Konsultan

sebuah cerita dari HB dan BB di NAD

Di sebuah hari yang terik, seorang bapak tua (Pak Badu, sebut saja begitu) sedang menggiring sekawanan sapi melintas jalan desa. Dari mobil mewah berlogo lembaga asing, keluarlah seorang bule. Sebut saja namanya John Doe. Dengan ramah, John Doe menyapa Pak Badu dengan Bahasa Indonesia ter-Cinta Laura terbata-bata, “Bolehkah chaya menebak jumlah chapi Andha? And if benar, chaya akan memincha cheekor chapi. How?”
Read the rest of this entry »

Sambel Goreng Jempol

Saya mau melakukan sebuah hal yang jarang saya lakukan: pengakuan akan kelemahan. Karena besarnya ego, gengsi dan jaim saya. Saya mau mengaku kalau saya cantengan. Ya, cantengan. Itu lho, kuku yang masuk ke dalam daging jari. Kemudian infeksi dan kumuh. Penyakit kaum miskin deh, kata seorang seleb. Parahnya lagi, cantengan di jari kaki ini sudah menahun. Alias pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebulan ini, rasa sakit di jempol kaki kanan semakin menjadi. Padahal, hampir setahun lalu kuku yang cantengan ini sudah dicabut. Tentu saja tidak seperti dicabut di bilik interogasi. Lha wong ini pake dokter, peralatan steril dan obat-obatan.
Read the rest of this entry »

Mengapa Anda Perlu Ubuntu di Rumah dan di Kantor?

(Tulisan ini saya buat di ruang kecil, dalam kantor Yayasan AirPutih. Lumayan untuk mengisi antara makan siang dan makan malam. Dan sebagai jawaban atas tulisan Tony Seno. Dengan perbaikan ejaan, tata kalimat, cara penulisan dan isi yang LEBIH benar.)
Oke. Jadi Anda bertanggung jawab terhadap sistem teknologi informasi di tempat kerja? Atau kurang puas dengan sistem operasi Anda ? Atau ada kekhawatiran anak-anak Anda senang bermain internet atau game tanpa pengawasan? Atau Anda khawatir dengan pencurian komputer/harddisk? Atau Anda khawatir biaya pembelian software sangat mahal? Atau mungkin Anda khawatir serangan virus?
Jika jawaban Anda adalah “Ya” pada salah satu pertanyaan di atas, mungkin sudah saatnya Anda mempertimbangkan migrasi ke Ubuntu.
Read the rest of this entry »

Banner yang Tulus

Selama sebulan penuh, yakni bukan Agustus 2008, saya mengganti template banner menjadi bernuansa merah putih. Bukan hanya banner, namun juga tagline-nya saya sesuaikan dengan semangat 17-an. Bukan apa-apa. Hanya ingin menyemarakkan saja suasana 17-an yang lebih menggigit.
Saya sebenarnya malu meramaikan 17-an yang agung hanya dengan banner. Namun, setidaknya saya bangga bisa menyemarakkan dengan ketulusan dan semangat ke-Indonesia-an. Bukan dengan korupsi, pidato atau kejahatan melawan kemanusiaan. Mending masang banner merah putih dengan tulus. Daripada pasang pin PNS dengan dada membusung karena arogan serta perut membusung karena makan duit haram. Daripada pasang plat anggota DPRD/Polri/TNI dengan mentereng serta arogan karena merasa bisa melibas jalan semaunya. Daripada pakai ring tone atau ring back tone lagu wajib namun dipakai untuk mengatur transaksi korupsi.
Saya bangga dan tulus dengan banner yang baru di blog ini.

Merdeka!

Jablai

Dulu, saya sering berpelukan saat bersua dengan teman atau saudara yang lama tak berjumpa. Namun kini, saya jarang merasakan indahnya pelukan pelepas kangen itu.  Momentum ini sirna karena kehadiran sebuah aplikasi yang biasa disebut instant messenger.
Read the rest of this entry »

Terkait Tetangga Sebelah

Jika ada gajah beradu, pelanduklah yang mati di tengah-tengah, kata guru Bahasa Indonesia saya suatu ketika.  Namun, ungkapan itu kini tak lagi manjur. Sebab, jika ada masalah di antara kita, yang paling repot bukan lagi pihak yang lebih kecil. Yang menjadi seksi sibuk dalam sebuah masalah adalah Pihak Terkait. Tidak percaya? Simak beberapa kalimat berikut ini, yang saya yakin, sering kita dengar dalam keseharian.
Read the rest of this entry »

Boot

Orang bilang, hidup ini menyediakan banyak pilihan. Buka sekedar hitam-putih. Ya-tidak. Ganjil-genap. Siang-malam. Dan bukan sekedar Linux-Windows.  Maka, jika MacBook saya adalah sebuah kehidupan, yang ditawarkan juga pilihan. Namun, lebih dari sekedar dua.

Demikian.